Friday, December 30, 2005


TIME
AUGUST 23-30, 1999 VOL. 154 NO. 7/8
Who Guards the Guards?

The organization created to clean up corporate Indonesia is itself tainted by a corruption scandal
By ERIC ELLIS Singapore

Every time Christovita Wiloto sits down at his computer, the 30-year-old banker is reminded of how tough his job is. His screensaver depicts hungry sharks circling their prey--a wry metaphor for the Indonesian Bank Restructuring Agency. Until recently, IBRA was a rare fish in Indonesia, an institution seemingly free of corruption and symbolic of a new, more professional Indonesian way of doing business. Its team of savvy young lawyers and bankers was re-shaping the country's shattered economy with a patriotic probity that won admiration at home and abroad. "We pride ourselves on our integrity," Wiloto says. "If we don't have integrity and the confidence of the people, then what do we have?"

That question took on a poignant significance last week following embarrassing revelations of a backroom deal that smacked of the crony culture IBRA aims to cleanse. IBRA deputy chairman Pande Lubis was suspended from duties after being accused of helping siphon funds from an institution under his care, PT Bank Bali. The money--some $77 million--ended up at PT Era Giat Prima, a company controlled by a senior official in the ruling Golkar party. The 59-year-old Lubis, an associate of senior Golkar officials, including President B.J. Habibie, allegedly arranged a cash transfer from Bank Bali, a bank under IBRA's care, to another stricken bank via "intermediaries." That middlemen should even be present in an everyday interbank transaction was strange enough. But when a Jakarta banking analyst, Pradjoto, revealed that a huge "commission" for the transfer was paid to a company linked to Setya Novanto, Golkar's deputy treasurer, the implication was clear--IBRA funds may have financed Golkar's recent parliamentary election campaign. The party insists it is innocent. "It was a pure business deal which Golkar has nothing to do with," says party chairman Akbar Tanjung. "We are ready to be investigated."

The disclosures unsettled international investors, who had hoped that IBRA would lead Indonesia's economic renaissance. The rupiah lost 12% of its value last week, the Jakarta stock market half that. Meanwhile, work inside IBRA has been paralyzed by a series of investigations into the affair. IBRA's apparent stumble gives ammunition to unscrupulous businessmen whose cosy cartels were threatened by the agency's previous work. It's also a sad reminder for Indonesians of how hard it is to rid corruption from their country's rotten corporate culture.

This isn't how things were meant to be. After it was set up in early 1998 as a condition of a $42 billion International Monetary Fund bailout, IBRA earned the respect of many skeptics as proof that real change was underway. The IMF was pleased, too, calling IBRA's job--to get bankrupt Indonesian banks back on their feet--a "life and death matter" for the economy.

If it were a company, IBRA would easily be Indonesia's biggest. It controls $85 billion in assets--20% of the country's GDP--and not just banks, but also holdings pledged for bad loans: major stakes in businesses like Indofood, the world's largest noodle manufacturer, carmakers, hotels and property--even Suharto friend Bob Hasan's private plane. And it's all for sale, with the pressure to raise funds intensifying as Indonesia's next budget draws nearer.

IBRA has an Indonesians-first divestment policy though few buyers at home, which would make it a happy hunting ground for foreigners--if they could trust the system. But not many foreign deals have been concluded--one of the biggest so far is Standard Chartered Bank's conditional purchase of a stake in Bank Bali in April. Foreign investors complain IBRA doesn't move fast enough, while some Indonesians accuse the agency of selling national treasures.

Still, the agency seemed to be getting some good work done. On Aug. 2, IBRA's 18 months of hard work paid off with the national debut of Bank Mandiri, a superbank of 530 branches hewn from four failures. Mandiri's snazzy outlets might look like Scandinavian furniture stores, but its real achievement is less visible: only one director of the four original banks sits on Mandiri's board.

Ironically, it was a new transparency in the system that unearthed the scandal. Standard Chartered's auditors were poring over Bank Bali's books when they discovered the $77 million hole. IBRA deputy chairman Arwin Rasyid admits the agency faces "huge pressure from influential politicians. With the wealth and assets we're holding, no wonder many parties try eagerly to take advantage." The sharks on Christovita Wiloto's screensaver are real. Arwin says the Bank Bali affair "is an acid test of IBRA's professionalism." But in an Indonesia desperate for change, there's a lot more at stake than reputations.

This edition's table of contents

Wednesday, August 24, 2005

”Charity Concert to Be Living Stones”


”Charity Concert to Be Living Stones”
Menjaring Sahabat STT JakartaMelalui Konser Amal
Sinar Harapan, Kamis, 25 Agustus 2005

JAKARTA –Melalui pujian menjadi batu hidup (to be Living Stones) menjadi tema yang diusung dalam ”Charity Concert” atau konser amal yang digelar Sekolah Tinggi Teologi (STT) Jakarta pada Sabtu (30/4) malam lalu di Balai Sarbini, Plaza Semanggi, Jakarta. Kehadiran Paduan Suara (PS) Petra dan Petra Chorale dari Universitas Kristen Petra Surabaya, Jawa Timur, Kelompok Musik Kreaktif (KMK) STT Jakarta, guest singer Christopher Abimanyu serta Eka Deli dengan alunan lagu rohani, kian meneguhkan tema to be Living Stones yang sebenarnya merupakan tema Dies Natalis ke-70 STT Jakarta pada September 2004 lalu.

Rasul Petrus memakai to be Living Stones sebagai nasihat yang masih relevan untuk dunia sekarang ini. Kalimat Rasul Petrus itu lengkapnya: ”Dan biarlah kamu juga dipergunakan sebagai batu hidup untuk pembangunan suatu rumah rohani, bagi suatu imamat kudus, untuk mempersembahkan persembahan rohani yang karena Yesus Kristus berkenan kepada Allah.” (I Petrus 2:5).Menjadi batu hidup, itulah semacam kesaksian yang disampaikan anggota dewan penyantun STT Jakarta yang juga alumnus STT Jakarta, yakni Pdt Kumala Setiabrata, M. Th dan Hilda Ningsih T. Pelawi, S. Th sebagai pembuka konser amal.

Konser dirancang dalam tempo singkat dan didukung oleh Christovita Wiloto dari PowerPro. Dalam konser yang dipenuhi sedikitnya 1.000 undangan itu sosok ”bhineka tunggal ika” negeri ini menjadi warna tersendiri. Nafas nusantara menjadi kental ketika lagu daerah seperti Diru-diru dan Wos Injer Ine (lagu dari Biak, Papua), Soleram (lagu Melayu), Ondel-ondel (dari Betawi), Monggo-monggo Sami Nderek Gusti dari Jawa, serta Tjak Janger dari Bali dengan apik ditampilkan Kelompok Musik Kreatif (KMK) STT Jakarta dan Petra Chorale.Konstum masing-masing etnis tampil di tengah dendang lagu sejumlah daerah di panggung yang berukuran hampir 30 meter tersebut. Saat lagu Ondel-ondel dibawakan KMK STT Jakarta, pengunjung langsung menyambut dengan tepuk tangan. KMK STT Jakarta bahkan tampil dengan pakaian tradisional Betawi.”Nyok kite nonton ondel-ondel, nyok! Nyok kite garak ondel-ondel, nyok! Ondel-ondel ade anaknye, woooy! Anaknya ngigel terkiteran, woooy!” Tepuk tangan pun kembali pecah ketika akhir bait lagu Ondel-ondel menyembul ke luar: ”Anak ondel-ondel jejingkrakan, kraak! Kepalanye nyale berkobaran Nyang ngarak pade kebingungan. Hihihihi! Disiramin aer comberan.” Penonton dibuat seakan tidak percaya lagu asal Betawi itu ternyata asyik didengar apalagi dipadukan dengan gerak dan tari yang diperlihatkan KMK STT Jakarta.

”Ini baru hiburan! Ternyata lagu Betawi bisa menjadi menarik ketika dilakoni oleh para mahasiswa STT Jakarta,” komentar seorang penonton. Di tangan KMK STT Jakarta yang dibentuk Juli 1996 ini, segala macam lagu menjadi lebih hidup apalagi dengan permainan musik sederhana seperti menggunakan bambu, tifa, serta benda-benda bekas pakai seperti botol, plastik, batok kelapa, dan batu. Kelompok Musik Kreaktif STT Jakarta ini beranggotakan para mahasiswa STT Jakarta. Menurut dirigen KMK STT Jakarta, Christina Mandang, kehadiran kelompok musiknya ini memang untuk menjadi kesaksian hidup sebagai bagian dari pelayanan kepada warga kristiani. ”Talenta terus dikembangkan untuk melayani jemaat di berbagai gereja di Jakarta dan daerah lainnya,” tutur Christina Mandang.

Decak kagum pengunjung tidak sampai terhenti di situ. Karya klasik pun hadir di pertengahan konser amal tersebut. Tepuk tangan tiada henti pun bersambut di tengah Balai Sarbini yang memang telah menjadi ajang tempat pelbagai konser utama digelar di Jakarta. Sejumlah karya klasik dialunkan oleh Paduan Suara Perta dan Petra Chorale di antaranya Cantate Domino, Jesu, meine Freude karya JB Bach, Ave Verum karya William Byrd serta Hallelujah from ”Mount of Olives” karya L van Beethoven.Kepiawan Paduan Suara Petra memang tidak diragukan lagi apalagi dibawah pimpinan Aries Sudibyo.

Paduan Suara Petra dan Petra Chorale hadir dengan ekspresi yang tepat, dinamika yang kaya, dipadukan dengan suara yang kompak.Penampilan paduan suara ini benar-benar telah menjadi ”batu yang hidup” bagi para undangan yang hadir memenuhi bangku-bangku di sana.Paduan Suara Petra dan Petra Chorale memang secara teratur melayani ibadah-ibadah pada gereja-geraja lokal termasuk juga mengadakan pelayanan keliling dan konser keliling di Singapura, Malaysia, Jakarta, Surabaya, Makassar, Tana Toraja, serta Yogyakarta. Selain menyelenggarakan konser-konser di kota-kota tersebut, Paduan Suara Petra ternyata telah unjuk gigi di sejumlah festival internasional. Terakhir, paduan suara ini tampil pada Festival Musik Mahasiswa Kristen Asia di Hong Kong tahun 2004 lalu.

Bintang tamu Christopher Abimanyu dan Eka Deli juga ikut nimbrung mewarnai konser amal tersebut. Lagu kondang seperti Ave Maria buah karya Franz Schubert atau You Raise Me Up karya Rolf Lovland dan Brendam Graham yang biasa dinyanyikan Josh Groban nyaris sempurna ketika dilantungkan Christopher Abimanyu. Menambah hiburan tersebut, penyanyi rohani Eka Deli menutupnya dengan alunan Kau Berharga dan medley Hormat Bagi Allah Bapa, Muliakanlah, Joyful Joyful Lord We Adore Thee. Sekilas memang konser amal yang digelar STT Jakarta ini sederhana. Namun seperti ditegaskan Ketua Panitia Pdt Ferdy Suleeman, konser amal ini diharapkan banyak melahirkan sahabat STT Jakarta yang rindu untuk menjawab kebutuhan pelayanan gereja-gereja di Indonesia. Para pengunjung diharapkan dapat menjadi sahabat perjalanan STT Jakarta, sekolah bagi para calon pendeta yang didirikan tahun 1934, dan tercatat sebagai yang tertua di Indonesia.”Kesediaan itu akan memberi makna kebersamaan yang kuat dalam mencapai tujuan. Mari, jadilah sahabat STT Jakarta,” ajak Pdt Ferdy Suleeman. Namun, lebih dari itu sebenarnya bagaimana kita menjadi to be Living Stones, menjadi batu hidup, demi kemuliaan Bapa di Sorga. (SH/norman meoko)

Friday, July 22, 2005

Christovita Wiloto: Marah ala Konsultan PR


Christovita Wiloto: Marah ala Konsultan PR
Jum'at, 22 Juli 2005 09:10 WIB - warta ekonomi.com

Dalam dunia konsultan, klien adalah raja. Jadi, hampir tidak mungkin seorang konsultan memarahi kliennya. Betulkah? Tidak juga. Simak saja pengalaman Christovita Wiloto, CEO Power Public Relation. "Malah saya yang suka marahin klien," ujar Chris sambil tertawa. Lho, kok? Ternyata, bagi lulusan Asian Institute Management Filipina ini, klien adalah ibarat pasien, dan yang menjadi dokternya adalah Christovita sendiri. "Kebanyakan klien kami adalah perusahaan yang sedang mengalami krisis, jadi mereka harus menurut sesuai resep yang kami berikan," jelasnya.

Gimana sih marah ala konsultan PR itu? Begini. Misalnya, ada seorang direksi sebuah perusahaan yang menjadi klien Chris "takut" menghadapi media/wartawan. Maka, tak segan-segan Chris mengingatkan secara langsung atau minimal lewat SMS agar sang direksi jangan terlalu tertutup kepada media. Marah Chris yang paling ekstrem adalah ia pernah meninggalkan klien. "Kebetulan saya bukan tipe PR yang hanya bisa menyenangkan klien saja, jadi kalau mau sehat harus nurut dengan kemauan dokter," ungkap pria pencinta seni ini sambil tersenyum. (DW)

Saturday, January 29, 2005

Syarat PR Tidak Hanya Mampu Berkomunikasi

Syarat PR Tidak Hanya Mampu Berkomunikasi
KOMPAS Jogja - Sabtu, 29 Jan 2005 Halaman: 3 Penulis: J04 Ukuran: 2598
SYARAT PR TIDAK HANYA MAMPU BERKOMUNIKASI

Yogyakarta, Kompas
Profesi sebagai pelaku public relations tidak cukup hanya
memiliki kemampuan berkomunikasi saja. Di tengah modernitas dan
perubahan zaman seperti sekarang, mereka sebaiknya juga memiliki
karisma dalam bersikap.

"Karisma atau citra diperlukan untuk membangun rasa kedekatan
terhadap publik, khususnya dengan mitra kerja. Hal itu juga terkait
dengan dasar ilmu ekonomi, yaitu bagaimana mengetahui dan merespons
keinginan pasar atau konsumen," kata Christovita Wiloto, CEO Wiloto
Corp, dalam kuliah umum di Universitas Atma Jaya Yogyakarta, Jumat
(28/1). Kuliah umum itu diprakarsai Program Studi Manajemen Fakultas
Ekonomi UAJY dan dihadiri puluhan mahasiswa.

Dalam menghadapi perubahan paradigma berkomunikasi saat ini,
menurut Christovita, seorang pelaku public relations (PR) juga harus
mengikuti perkembangan dan isu-isu terkini terutama berkaitan dengan
kondisi kenegaraan. "PR tidak hanya berfungsi sebagai mediator yang
banyak berperan di belakang meja saja, tapi sebaiknya mulai terjun
ke lapangan," katanya tegas.

"Zaman sudah banyak berubah. Fungsi PR sekarang sudah meluas
menjadi the guardian of public trust. Mereka harus dekat dengan
publik dan dipercaya publik. Selain itu, PR harus juga terbiasa
dengan kemajuan teknologi komunikasi yang terus berkembang pesat,"
ucap Christovita.

Christovita juga mencontohkan almarhum Presiden RI pertama
Soekarno, sebagai sosok PR yang berhasil. Semasa hidupnya, sebelum
dan semasa menjadi presiden, Soekarno selalu tampil memukau terutama
dalam menyampaikan pidato-pidatonya.

"Dia berhasil menjadi komunikator yang baik. Buktinya, semua
pesan pidato yang disampaikan Soekarno selalu dipahami dan
ditanggapi oleh rakyat. Soekarno juga berhasil membakar semangat
rakyat, khususnya anak muda waktu itu," paparnya.

Christovita mengatakan pentingnya menyampaikan suatu hal atau
informasi secara obyektif kepada publik, ketika institusi di tempat
ia bekerja sedang berada dalam masalah. Dalam kondisi seperti itu,
katanya, PR jelas harus memiliki dan menguasai teknik komunikasi
saat krisis. "Ini yang biasanya sulit dilakukan. Dia dihadapkan pada
dua pilihan," kata Christovita.

Menanggapi masalah ini, Agustina Hapsari, staf PR Hotel Saphir
Yogyakarta, mengatakan, seorang PR juga harus memiliki nilai
kejujuran dalam bersikap sehari-harinya. Kejujuran itu merupakan
salah satu nilai penting karena PR jelas akan berinteraksi dengan
banyak orang setiap harinya. (J04)

Tuesday, January 25, 2005

Nilai Tambah 2005

Nilai Tambah 2005
Selasa, 25 Januari 2005 14:29 WIB - wartaekonomi.com

Di zaman hypercompetition seperti sekarang ini, penciptaan ilai tambah akan menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan persaingan. Karena itu, dalam setiap kesempatan, Warta Ekonomi selalu berusaha menciptakan nilai tambah sebagai tambahan pelayanan kepada pelanggannya.

Salah satu contoh nilai tambah yang kami berikan adalah forum konsultasi bagi para entrepreneur muda. Bekerja sama dengan PowerPR, pada 16 Desember lalu, kami mengadakan seminar yang kami beri judul "Untold Story: The Secret of The (Young) Super Entrepreneur". Seminar ini menghadirkan entrepreneur-entrepreneur kreatif seperti Stanley Setia Atmadja (Adira Finance), Beno Pranata (Pesan Delivery), Christovita Wiloto (PowerPR), Naomi Susan (SendnSave), dan Yudy Wijaya (Mobil Iklan).

Dalam seminar yang berlangsung di ruang Kalimantan-Maluku, Hotel Shangri-La Jakarta, tersebut, hadir sekitar 100 peserta dari berbagai penjuru Ibu Kota. Walaupun diadakan nyaris di penghujung tahun, ternyata antusiasme peserta cukup menggembirakan. Tanya jawab yang panjang dan intensif tak jarang disertai tawaran deal bisnis mewarnai seminar kali ini.

Mengingat antusiasme peserta, maka kami pun sepakat untuk melanjutkan program ini di tahun 2005. Menurut Zulmi Savitry, manajer Iklan dan Promosi Warta Ekonomi, pada tahun 2005 ini akan ada beberapa kali acara sejenis untuk memenuhi permintaan para entrepreneur muda yang haus ilmu dan pengalaman itu. "Kami sedang merundingkan dengan pihak PowerPR, tanggal-tanggal yang tepat untuk acara ini," tambahnya.

Untuk menciptakan nilai tambah lainnya, setiap acara yang kami adakan pun kami tayangkan secepat mungkin di wartaekonomi.com. Menurut M. Ade Maulidin, koordinator wartaekonomi.com, langkah ini, selain untuk memberikan nilai tambah kepada pembaca Warta Ekonomi, juga untuk mengokohkan eksistensi wartaekonomi.com kepada pembaca majalah ini. "Kombinasi edisi print dan online, yang dalam banyak hal mempunyai produk yang berbeda kemasannya, diharapkan memberi nilai tambah yang tinggi kepada pembaca setia Warta Ekonomi," tambah Muhamad Ihsan, pemimpin redaksi Warta Ekonomi.

Semoga pelayanan kepada para pembaca akan terus meningkat di sepanjang tahun 2005 ini. Akhirnya, Selamat Tahun Baru. Semoga tak ada lagi bencana yang menimpa bangsa yang besar ini, dan tahun 2005 menjadi tahun kebangkitan Bangsa Indonesia.

Friday, December 17, 2004

Perlu Aturan Pemerintah Agar Kredit Perbankan Dinikmati UKM


Perlu Aturan Pemerintah Agar Kredit Perbankan Dinikmati UKM
Jum'at, 17 Desember 2004 09:49 WIB - wartaekonomi.com

Yudy Wijaya, direktur PT Yes Rajawali Perkasa mengeluhkan kredit masih sulit diperoleh pengusaha kecil dan menengah dari perbankan. Mereka hanya menyalurkan kredit bagi pengusaha besar saja. “Pemerintah perlu mengeluarkan aturan agar perbankan mau menyalurkan kredit bagi pengusaha kecil, “ tegasnya kepada WartaEkonomi di sela-sela Super Entrepreneur Forum, Untold Story : The Secret of The (Young) Super Entrepreneur yang diselenggarakan Wiloto Corporation bekerjasama WartaEkonomi Kamis (16/12) siang
Lebih jauh dikatakan Yudy, pengusaha kecil dan menengah mempunyai prospek bisnis yang cerah dibanding pengusaha besar. Apalagi kemungkinan pengembalian kredit akan lebih dapat dipercaya dan cepat dibanding pengusaha besar. “Kalau pengusaha besar lebih banyak terjadi korupsi. Malahan sebagian dana pinjaman sering disimpan dan dilarikan keluar negeri, “ jelasnya.

Yudy menambahkan pengusaha kecil dan menengah tidak maju tanpa dukungan pemerintah. Peran kementerian usaha kecil dan menengah masih dinilai sebagai hiasan saja. “Kerja kementerian itu (kementerian usaha kecil menengah dan koperasi/menkop UKM dan koperasi, red) realisasinya belum ada, hanya propaganda saja, “ tukasnya

Pada kesempatan yang sama, Beno Pranata, presiden direktur PT Mitra Karya Perkasa sependapat dengan Yudy. Perbankan belum menyalurkan kredit bagi pengusaha kecil dan menengah secara maksimal. Mereka hanya mengucurkan kredit bagi pengusaha lama saja. Hal ini tidak dapat disalahkan lantaran mereka harus memperhitungkan resiko yang ditanggung apabila terjadi kredit macet. “Oleh karena itu pemerintah perlu membentuk lembaga financing yang fokus menyalurkan kredit bagi usaha kecil dan menengah. Lembaga itu dapat dibentuk pemerintah bekerjasama dengan swasta, “ ucapnya kepada WartaEkonomi.

Saat dijumpai di Forum itu, Naomi Susan, direktur PT Ovis SendNSave mengungkapkan sejumlah kendala ditemui seorang pengusaha kecil dan menengah. Salahsatu hal itu terlihat dari permodalan yang sulit diperoleh dari pemerintah. Padahal, pemerintah dapat menganggap langkah itu sebagai investasi pemerintah. “Sistem (penyaluran kredit) kita jelimet. Hal ini tidak dipermudah pemerintah, “ ujarnya kepada WartaEkonomi. Mochamad Ade Maulidin

Wednesday, July 28, 2004

Pengusaha Muda 2004: Kreatif, Inovatif, dan Tahan Banting


Pengusaha Muda 2004: Kreatif, Inovatif, dan Tahan Banting
Rabu, 28 Juli 2004 11:02 WIB - wartaekonomi.com

Dalam mencari para pengusaha muda usia 35 tahun atau kurang, Warta Ekonomi menetapkan ukuran kuantitatif dan kualitatif. Ukuran kuantitatif, misalnya, minimal memiliki 10% saham, perusahaannya sudah beroperasi selama dua tahun, omzet minimal Rp3 miliar per tahun. Adapun ukuran kualitatif, antara lain, bagaimana caranya memulai dan mengelola usaha, mempertahankan keunggulan usaha, serta sejauh mana manfaatnya bagi lingkungan, baik bagi masyarakat maupun negara.

Kriteria-kriteria tersebut kemudian kami bobot, dengan pemberian bobot lebih besar kepada indikator kualitatif. Hasilnya? Berikut beberapa pengusaha muda berusia 35 tahun atau kurang yang layak menjadi unggulan.

Andreas Thamrin, 27
Pemilik Games Market dan Operations Manager Digitone Pty Ltd.
Sejak SMU, putra pengusaha Hermes Thamrin ini tinggal di Australia. Di Negeri Kanguru, pria kelahiran 17 Desember 1977 ini berbisnis entertainment software, khususnya games, yang dijualnya via internet. Produknya adalah games untuk komputer PC, Sony Playstation, Microsoft Xbox, Nintendo Game Cube, dan Apple Macintosh. Dengan modal uang simpanan A$30.000, omzet bisnisnya terus meningkat hingga mencapai A$820.000 pada 2002-2003.

Kini Andreas memulai bisnis barunya, yaitu ritel ponsel 3G. Sejak akhir 2002 Andreas sudah mendekati pihak Hutchison Whampoa, operator 3G di Australia, supaya bisa membuka toko ritel produk-produk 3G. "Beda dengan di Indonesia yang toko ritelnya bisa menjual multibrand dan multioperator, di Australia menganut prinsip multibrand, one operator," ungkap Andreas. Keuntungannya, ia mendapat dukungan operator berupa interior senilai A$50.000 per toko.

Awalnya penjualan Andreas seret karena operator masih mengalami problem jaringan dan bentuk ponsel 3G yang besar dan boros baterai. Namun, pelan-pelan penjualannya meningkat. Selain memiliki cabang di Sydney dan Perth, dengan 50 karyawannya, Andreas mengincar Brisbane, Adelaide, dan Melbourne. Ia juga berhasil menjadi "Dealer of The Year", mengalahkan 150 dealer lainnya di Australia. Omzetnya kini sekitar A$15 juta, dan ia menargetkan tahun depan sekitar A$30 juta.

Alfred Boediman, 31
CEO Starbay Development Co. Ltd.
Penyandang gelar magister dari Universiteit Brussel, Belgia, ini pernah menjadi profesional di Oracle dan Siemens, Singapura. Setelah berhasil mengumpulkan sejumlah dana, Alfred memutuskan untuk mendirikan usaha sendiri. Dengan US$1,3 juta, yang berasal dari tabungan serta sokongan orang tua dan dua orang temannya, ia mendirikan usaha sendiri dengan bendera Starbay dan berbasis di Singapura. Alfred turut membidani kelahiran PT Pratama Sukses Sejati (dengan memiliki 40% saham), I-Kom Communication (40%), dan punya saham di SNAP Media (40%), PR Sigma Solusi Integrasi (14%), dan PT mVcommerence Indonesia (2%). Tahun lalu Starbay membukukan laba Rp10 miliar.

Beno Pranata, 30
Presdir PT Mitra Karya Perkasa
Lahir di Surabaya, 5 Mei 1974, Beno menghabiskan sembilan tahun usianya di AS untuk mengambil studi S1 dan S2. Ia mendapat ide berbisnis saat kuliah S2 di jurusan finance, Northeastern University, Boston. Kala itu, sembari kuliah, Beno bekerja paro waktu di sebuah perusahaan kurir layan antar.

Sepulang dari Negara Paman Sam, Beno berpikir pekerjaannya cocok jika dikembangkan di Indonesia. Bersama tiga rekannya, ia mendirikan PT Mitra Karya Perkasa pada akhir 2002. Awal 2003, mereka mulai menjalankan bisnis jasa layan antar produk makanan dengan nama Pesan Delivery.

Dengan investasi Rp350 juta, anggaran terbanyak diperlukan untuk pengembangan sistem teknologi informasi. "Di situlah jantung usaha kami," ujar Beno. Selebihnya untuk sewa rumah sebagai kantor. Menurut Beno, dalam sebulan mereka bisa mendapat omzet Rp400-500 juta dengan profit margin 5%-10% yang diambil dari komisi pemesanan restoran bersangkutan.
Bedanya dengan layanan restoran konvensional, Pesan Delivery memakai sistem TI sehingga lebih efisien dan cepat dalam pengantaran. Delivery man perusahaannya juga tidak harus bolak-balik dari restoran ke pelanggan karena melayani banyak restoran. Setelah si delivery man mengantarkan makanan ke tempat pelanggan, ia tidak perlu kembali ke kantor atau restoran semula, tetapi cukup stand-by di restoran terdekat.

Kini Beno memiliki 60 karyawan. Dalam mengelola bisnisnya, Beno sering berdiskusi dengan anak buahnya. Alasannya, justru dari merekalah Beno bisa mengetahui perkembangan pasar setiap harinya yang terus berubah, sehingga Beno tidak terlambat mengantisipasi.

Christovita Wiloto, 35
Presdir PT Wiloto Corporation
Saat menjadi corporate secretary BPPN, nama Christovita Wiloto kerap menghiasi media massa. Namun kini, namanya lebih dikenal sebagai pengusaha public relations. Dalam tempo empat tahun sejak 2000, laki-laki berusia 35 tahun ini bisa mengembangkan bisnis dengan modal awal Rp30 juta menjadi senilai Rp6,2 miliar pada tahun lalu, dengan tingkat keuntungan 30%-an. "Mungkin akhir tahun ini omzetnya bisa naik satu setengah kali lipat," ujarnya.

Christov ingin Wiloto Corp. menjadi perusahaan komunikasi terintegrasi berskala internasional. Tak heran jika ia kini sibuk membangun networking ke beberapa negara untuk menggaet klien. "Ada yang berhasil, ada yang gagal," katanya. Ia menyadari, menjadi pengusaha itu banyak risikonya. "Namun, yang penting, risiko itu harus bisa dipelajari, diantisipasi, dan disiapkan solusinya," ujar dia.

Walau bisnis public relations tak membutuhkan modal terlalu besar, Christov menegaskan bisnisnya ini erat hubungannya dengan kepercayaan. Ia berprinsip, bisnisnya bisa berkembang karena memperoleh kepercayaan dari orang lain. Ia juga berupaya menjaga networking dan reputasi. "Klien yang saya dapatkan hampir 99% datang sendiri, bukan kami yang mencari," tuturnya. Prinsip berikutnya yang dipegangnya adalah bekerja secara profesional, smart, dan meningkatkan kompetensi serta membangun teamwork yang solid bersama 15 orang karyawannya.

Eko Hendro Purnomo, 33
KASAD (Komandan Setingkat Direktur) PT E Titik Tiga Komando
Lulusan Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) ini lebih ngetop dengan nama Eko Patrio. Saat krisis melanda negeri ini pada 1998, otak bisnisnya langsung bekerja. Diawali dengan usaha kafe tenda, ia lalu mendirikan holding company bernama PT E Titik Tiga Komando pada tahun 2000. Bisnisnya yang semula hanya berupa rumah produksi, menjalar hingga restoran, salon, butik, dan percetakan. "Saya puas menjadi pelawak, tetapi boleh dong melakukan diversifikasi," tuturnya, jenaka. Tahun kemarin, rumah produksinya mencatat omzet Rp6 miliar dengan profit margin 40%. Sementara itu, salon Labuzet yang didirikannya dengan modal Rp200 juta, kini beromzet Rp720 juta. Demikian juga PT Catur Mitra Promosindo yang bergerak di bidang printing, advertising, dan publishing, mampu mengumpulkan omzet Rp3 miliar per tahun.

Estelita Hidayat, 32
CEO BIDS Global Consultant
Perempuan berusia 32 tahun ini sebenarnya lebih banyak dikenal sebagai pengusaha periklanan lewat PT Voxa Integra, yang ia dirikan bersama kakak dan dua temannya pada 1995. Ia lalu mendirikan Innovoxa, divisi media inovatif lewat PT Voxainfini Kreasi. Tahun lalu Voxa Integra membukukan omzet Rp11 miliar, sementara Innovoxa Rp10 miliar.
Kini Estelita menggarap bisnis jasa konsultasi manajemen bernama BIDS Global Consultant. Ia bergabung di perusahaan ini pada 2001. Saat itu BIDS kesulitan menembus klien, dan Lita diminta membuka jalan. "Saat itu kondisi BIDS 'berdarah-darah'," kenangnya. Di bawah komandonya, BIDS, yang memiliki 12 karyawan, tahun ini mulai mencetak profit dengan omzet di atas Rp4 miliar setahun.

Lita mengakui bahwa bisnis konsultan berbeda dengan advertising, yang tetap dikelolanya. "Setiap harinya saya harus membagi kerja otak kiri dan otak kanan," ucapnya. Jika berada di BIDS, ia banyak menggunakan otak kirinya, saat di Voxa ia lebih dominan memakai otak kanan.

Etika dalam berbisnis selalu dipegang teguh olehnya. Ia tak menampik bahwa bisnis konsultan rawan akan kebiasaan buruk yang tidak sesuai hati nurani. "Uang bawah meja," cetus Lita saat ditanya apa yang paling meresahkannya. Sebisa mungkin Lita berbisnis dengan bersih.

Erwien Nurwihatman, 34
Managing Director PT Capella Sumber Intranet
Erwien mengaku tak patah semangat meski kinerja bisnis TI di Indonesia sedang menurun dan berdampak buruk pada tingkat penjualan perusahaannya. Ia menyebut bisnis TI memang ganas dan berisiko tinggi. Persaingannya ketat dan saling mengejar dalam hal pengetahuan dan teknologi. Untuk menyiasatinya, Erwien mencoba fokus dengan mencari nilai lebih di bidang jasa TI, seperti jasa konsultansi dan layanan implementasi, dibandingkan dengan penjualan produk TI.

"Tren dunia memang penjualan barang TI menurun dibanding jasanya," ujar Erwien. Tahun lalu, ungkapnya, komposisi pendapatan perusahaannya adalah 50% dari perangkat keras, 30% dari services, dan 20% dari lain-lain. Omzetnya pernah mencapai Rp5 miliar, tetapi pernah juga turun hingga Rp1 miliar. Sementara itu, profit margin perangkat keras 15% dan services 40%. Erwien mengaku memiliki saham kurang dari 20% di perusahaan yang modalnya digalang bersama teman-temannya itu.

Selain meningkatkan brand equity merek Capella, Erwien juga mencoba mengejar target pasar yang spesifik. "Saya ingin menjadi spesialis di bidang tertentu, seperti wireless, security, QoS, dan Linux." Sejak tahun 2002, ia menjadi partner strategis Cisco Systems di pasar jaringan. Ia juga berupaya setiap tahun harus ada produk baru dengan teknologi terkini, seraya terus meningkatkan kemampuan SDM perusahaannya. "Sebenarnya yang saya jual adalah skill SDM," tuturnya.

Fahira Fahmi Idris, 35
Dirut PT Nabila Parcel Bunga International
Di samping parsel, sudah sejak 1995 Fahira mengembangkan bisnis florist. Jika bisnis parselnya amat tergantung pada hari raya, bisnis florist berjalan setiap hari. Meski begitu, pendapatannya dari bisnis parsel diakuinya masih lebih tinggi.

Dirintis sejak 16 tahun lalu, tahun kemarin omzet bisnisnya mencapai Rp5-7 miliar dengan profit margin 5%-10%. Jumlah karyawan tetapnya 55 orang, dan bisa mempekerjakan 300 orang menjelang hari-hari besar. "Awalnya ide itu muncul hanya untuk mengisi waktu luang di hari libur, menjelang hari raya," tutur Fahira soal bisnis parselnya.

Bersama sepuluh temannya, Fahira mengawali bisnisnya dengan modal Rp500.000. Meski ayahnya, Fahmi Idris, pengusaha terkenal, Fahira mengaku tak mendapat bantuan sedikit pun. "Ayah saya galak," katanya. Namun, itu justru memaksanya untuk mandiri.
Selain mempertahankan bisnisnya, kini Fahira sudah menyimpan rencana ekspansi di bisnis kecantikan dengan membuka salon one-stop shopping. "Klien saya kebanyakan ibu-ibu, dan saya melihat banyak salon belum bisa memenuhi kebutuhan mereka," tuturnya.

Hendy Widjaja, 34
Managing Consultant PT Insight Consultant
Keputusan penyandang gelar Master of Science dari Louisiana State University, AS, untuk keluar dari perusahaan konsultan PricewaterhouseCoopers (PwC) bisa dibilang tepat. Ia berhenti menjadi karyawan pada tahun 2000. Dua tahun kemudian, Oktober 2002, bersama seorang seniornya di PwC, ia mendirikan perusahaan konsultan manajemen, TI, dan perdagangan produk TI, berbendera Insight Consultant. Hingga kini perusahaannya meraup pendapatan kotor US$1 juta dengan profit margin 30% per tahun.

Ian Rangkuti, 33
Presdir PT Natnit.net
Ian Rangkuti memilih berhasil mengembangkan usaha bersama mitranya dibanding mengutamakan besarnya kepemilikan usaha. "Dengan sistem bisnis kolektif, investasi dapat ditekan," ujarnya. Risikonya memang bisa saja konsep bisnisnya diserobot pihak lain. Namun, kelemahan itu dihindarinya dengan tak salah menggandeng mitra.

Melalui PT Natnit.net yang didirikan dengan modal Rp300 juta, Ian membangun bisnis perdagangan via internet yang disosialisasikan lewat tabloid Natnit.net. Perpaduan cara ini memberinya omzet Rp6-7 miliar setahun, dengan profit margin lebih dari 10%. Ia mengaku, pada tahun kedua modalnya sudah kembali.

Bisnis lainnya dijalin lewat VendingOn.Net. Menurut Ian, saat ini VendingOn.net telah melakukan perdagangan online di 31 portal internet dengan rata-rata 2-5 unit penjualan per hari per portal. Ian mulai dengan menjual produk-produk seharga di bawah Rp250.000 dan menerapkan sistem cash on delivery. Namun kini, papar Ian, konsumen sudah berani dengan sistem transfer via bank untuk pembelian hingga Rp1,5 juta.

Kini Ian bersiap melakukan ekspansi ke Filipina. "Kami sedang merintis kerja sama dengan perusahaan internet di Filipina, seperti Yehey.com, Iskul.org, dan Findme.co.ph, mendirikan jaringan Natnit.net di sana," ungkapnya.

Iin Mintosih, 34
Dirut PT Satu Kupu
Cuma bermodal Rp2 juta, lulusan teknik arsitektur Universitas Atma Jaya, Yogyakarta, ini nekat mendirikan PT Satu Kupu. Iin menguasai 100% sahamnya. Kini, perusahaan yang memulai usaha pada Maret 1999 itu mempunyai omzet Rp3 miliar per tahun. Bisnis Iin adalah membuat bantal, sprei, dan bed cover eksklusif untuk konsumsi dalam negeri maupun ekspor. Profit margin-nya 50%.

Izak Jenie, 34
Direktur Jatis Solution
Peraih penghargaan "Pengusaha Muda 2001" versi Ernst & Young ini bersama beberapa rekannya mengumpulkan uang hingga mencapai Rp1 miliar. Tujuannya cuma satu: mendirikan perusahaan yang akhirnya diberi nama Jatis Solution. Lewat Jatis, mereka sempat menggarap proyek internet banking BCA dan beberapa bank lain. Jatis pun berekspansi ke Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Filipina. Terakhir, Izak hanya menguasai 10% saham, karena mayoritas saham Jatis dimiliki perusahaan modal ventura 3i.

Joseph Edi Lumban Gaol, 35
CEO PT Antar Mitra Perkasa
Fokus bisnis PT Antar Mitra Perkasa adalah memberikan nilai tambah bagi produk telekomunikasi bergerak, berupa aplikasi data melewati fasilitas komunikasi, seperti SMS atau download ring tones. Joseph menyebut dirinya sebagai agregator yang mengirimkan content dan aplikasi data ke hampir semua pelanggan operator. "Saya punya semacam short-code yang bisa diakses dari semua operator," paparnya.

Setelah sukses menggarap mobile banking BCA dan Excelcomindo Pratama, Joseph merancang TV show interaktif "Nyit-nyit-nyit" yang pernah ditayangkan di Metro TV. Acara itu tak sekadar mengirimkan SMS interaktif, tetapi juga mengundang pemirsa berinteraksi. Untuk mengikuti acara tersebut, pemirsa harus mendaftar terlebih dahulu via SMS.
Saat ini Joseph sedang getol menggarap download ring tones telepon selular. "Kami legal karena selalu membayar royalti ke pencipta lagu atau komposer," ungkapnya. Ia tak menampik, masih banyak pelaku industri content mobile yang tak melakukannya. Padahal itulah etika dalam berbisnis.

Joseph sadar, bisnisnya ini "mahal" karena teknologinya masih diimpor. "Namun, saya berani mengambil risiko, terutama jika didasari perhitungan yang matang," tegasnya. Jadi, jika tak menambah revenue perusahaan, ia lebih baik tidak berinvestasi atau meluncurkan produk baru.

Perusahaan Joseph kini sudah berjalan lima tahun. Omzetnya Rp8 miliar per tahun. Ke depan, ia memperkirakan perusahaan akan tumbuh 20%. "Saya optimistis itu tercapai," tandasnya.

Kanaya Tabitha, 32
Pemilik Rumah Mode Kanaya
Ibu satu anak ini merintis Rumah Mode Kanaya sejak 1998. Perancang yang pernah mengikuti Hong Kong Fashion Week ini memproduksi busana berlabel namanya sendiri, Kanaya Tabitha. Selain mengandalkan pendapatan dari hasil rancangan, ia juga melayani pembuatan seragam dari berbagai instansi, termasuk militer. Bahkan, kadang ia bertugas menjadi konsultan fashion Presiden Megawati Soekarnoputri. Ia mengaku, tiap tahun omzetnya mencapai Rp4 miliar dengan profit margin di atas 15%.

Lasman Citra, 34
CEO Rajawali Tri Manunggal
Setelah gagal di bisnis peternakan ayam, ikan, dan penggilingan padi, Lasman memutuskan untuk menjadi profesional. Ia pun bekerja di PT Metrodata Electronics. Setelah mendapat bekal ilmu, kepercayaan diri Lasman kembali tumbuh untuk mendirikan perusahaan sendiri. Tahun 1999, ia mendirikan PT Nusantara Data Solusi, sebuah perusahaan sistem integrator yang bermitra dengan Metrodata. Setahun kemudian, perusahaan itu melakukan merger dengan Rajawali Tri Manunggal (RTM). Lasman menguasai 30% saham dan dipercaya menjadi CEO. Tahun lalu, RTM mencatat omzet US$30 juta. Kini, RTM merambah ke bisnis penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi dan jaringan.

Naomi Susan, 29
Pemilik PT Ovis SendNSave
Perempuan kelahiran Januari 1975 ini sebelumnya lebih dikenal sebagai pengusaha bisnis kartu diskon belanja. Bisnis yang dioperasikannya sejak 1997 itu sudah mencapai jumlah 3,7 juta pemegang kartu. Melihat adanya potensi bisnis yang bisa dikembangkan di fasilitas aplikasi data atau SMS yang sudah umum digunakan pengguna ponsel yang sekarang tercatat sudah berjumlah 22 juta pengguna, ia lantas mempunyai ide bisnis baru.

Di bawah bendera PT Ovis SendNSave, sejak tahun lalu ia menawarkan layanan semacam fasilitas kartu diskon belanja juga. Bedanya, keanggotaan dan pemanfaatan kartu diskon belanja itu dilakukan lewat SMS. Ia memperoleh pendapatannya dari pulsa pengguna. "Memang saya cuma mendapat beberapa ratus perak, tetapi kuantitasnya banyak," ungkapnya. Ide bisnis baru ini ternyata mendapatkan sambutan positif dari operator selular yang bersedia berbagi pendapatan 50:50. "Semua operator sekarang sudah bekerja sama dengan saya," tuturnya.Tak berhenti hanya dengan dua bisnis itu, tahun ini Naomi bersama rekannya mempunyai "mainan" baru berupa bisnis layanan carter pesawat. Ide itu muncul ketika ia menerima banyak keluhan orang yang ingin berlibur ke Bali saja tetapi tidak bisa pergi karena mahal. Ia lantas membuat penawaran paket murah berlibur ke Bali dengan mencarter pesawat sendiri bekerja sama dengan perusahaan penerbangan Bouraq. Ia juga bekerja sama dengan biro perjalanan dan hotel membuat paket tur dan penginapan hotel yang murah. "Karena masih baru, pendapatannya masih naik turun," ujarnya.

Ridwan Prasetyarto, 33
CEO PT eBdesk Indonesia
Sarjana teknik dari Institut Teknologi Bandung (ITB) ini mendirikan eBdesk bersama tiga rekannya di tahun 1999. Perusahaan perangkat lunak yang berfokus pada men- develop portal perusahaan ini mulai komersial di tahun 2000. Kini, mereka mempunyai 70-an customer yang tersebar di Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, dan Amerika Serikat. Di Indonesia, kliennya, antara lain, Kementerian Riset dan Teknologi, BPPT, Astra International, Satelindo, Bank Mandiri, Bouraq Airlines, dan Magister Manajemen Universitas Gadjah Mada. Tahun lalu mereka mencatat pendapatan Rp4,5 miliar dengan tingkat keuntungan bersih 30%.
Rudi Mulyono, 32Pemilik Rally Auto CenterSetelah sukses membangun bengkel mobil seluas 3.200 meter persegi, terluas di Jawa Timur, yang bernama Rally Auto Center, tahun ini Rudi merambah ke bisnis rokok. Pria berusia 32 tahun ini membangun pabrik rokok di Kediri dengan nama PT Alam Mega Raya. Rokok dengan logo "RR" itu saat ini menunggu peluncuran produk perdana. Rencananya, rokok ini tak hanya dipasarkan di sekitar Kediri, tetapi juga di kota-kota lainnya.

Rudi nekat masuk ke bisnis rokok karena ia merasa konsumen perlu alternatif rokok yang lain. Walau sudah ada merek-merek rokok terkenal, ia tidak gentar. Target yang diincar adalah perokok kelas menengah ke bawah. Ia ingin menghadirkan rokok rasa Dji Sam Soe tetapi dengan harga kelas pinggiran.

Setelah pabrik rokoknya berjalan, Rudi akan mengembangkan kafe keluarga yang menyediakan fasilitas karaoke, meja biliar, dan live music yang menonjolkan suasana kekeluargaan. Bisnis bengkelnya? Tetap berjalan. Tahun lalu omzetnya Rp12 miliar dengan profit margin 17,5%. Selain itu, Rudi juga mengelola bisnis hotel, menjadi dealer Suzuki, dan mendirikan BPR.

Saleh Abdul Malik, 33Chairman PT Altelindo Karya MandiriSaleh masih setia di bisnis teknologi informasi (TI). Belajar dari pengalaman, pengusaha berusia 33 tahun ini merasa cukup dewasa menghadapi apa pun situasi ekonomi yang terjadi. "Tentu ada pengaruhnya, tetapi saya berusaha tak lagi bergantung pada risiko-risiko yang ada," tegasnya.

Saleh mengungkapkan, tahun ini ia akan banyak berinvestasi di infrastruktur TI dan pengembangan perangkat lunak. "Saya berani berinvestasi karena kesempatan tak datang setiap hari," paparnya. Ia juga berencana melakukan ekspansi ke berbagai daerah, seraya ingin membuktikan bahwa TI bukan cuma dikuasai asing. "Bisnis TI sebenarnya mudah," ujar Saleh.

Tahun lalu bisnis TI Saleh meraih omzet Rp100 miliar. Padahal ia mengaku mengawalinya dengan tiga karyawan, modal Rp2 juta, dan tanpa surat izin usaha. Saleh pun terjun langsung ke lapangan menggarap pembangunan infrastruktur kabel di gedung-gedung. "Saya sendiri yang menarik kabelnya," tuturnya.

Menurut Saleh, kunci sukses bisnisnya adalah layanan, bukan sekadar menjual perangkat keras atau perangkat lunak. "Ini harus dijaga karena klien puas mengontrak saya berdasarkan service, bukan produknya," jelasnya. Selain itu, ia harus bisa mengelola bisnisnya seefisien mungkin, sehingga bisa bersaing dalam hal harga.

Tonton Taufik Rahman,
31Pemilik PT Rattanland Furniture
Bisnis utama pria asal Cirebon ini adalah bisnis rotan. Setelah berkembang, Tonton pun meluaskan usahanya ke bisnis transportasi BBM, pom bensin. Lewat PT Budi Surya Sejahtera, tahun lalu bisnis transportasi BBM-nya meraih omzet Rp7 miliar dengan tingkat keuntungan 7%.

Dalam berbisnis rotan, Tonton menembus pasaran dunia dengan rajin beriklan lewat website di internet. Hasilnya menggembirakan. Banyak pembeli dari mancanegara yang menghubunginya, dan website-nya menduduki peringkat pertama dalam sistem pencarian bisnis rotan di internet. Perusahaan rotan yang ia dirikan pada 1999 dengan modal Rp1 juta, hingga pertengahan 2004 omzetnya sudah US$500.000, dan ia yakin bisa mencapai US$1 juta pada akhir 2004.

Tahun ini ia membangun pabrik rotan seluas 8.000 meter persegi. Dalam waktu dekat ia berencana membangun ruang pamer untuk produk-produk rotannya. Namun, akibat terlalu ekspansif, Tonton berutang Rp3,1 miliar ke bank. "Cuma, dalam waktu enam tahun bakal lunas," katanya.

Tony J. Johan, 29
Presdir PT Plexis Erakarsa Pirantiniaga
Semula, Tony yang putra pengusaha kelapa sawit ini diterima bekerja di Citibank. Namun, dia lebih memilih mendirikan perusahaan pengembangan web dengan modal awal Rp300 juta. Ia sendiri menggenggam 35% saham dari perusahaan yang membukukan omzet Rp6 miliar per 2003. Usaha yang dinamai Plasmedia itu dilakoninya sejak lulus kuliah. Kini, bisnisnya berkembang ke bidang lain, seperti jasa implementasi, customization, maintenance, dan training.

ARI WINDYANINGRUM, ACHMAD ADHITO HATANTO, HENDARU, DAN FADJAR ADRIANTO

Wednesday, June 09, 2004

ONE PROFESSIONAL PROFILE


ONE PROFESSIONAL PROFILEPilih
9 June 2004 - 04:59 radioonejakarta.com

Easy going....
Christovita Wiloto – Power PR – CEO & Managing Partner menjadi tamu kita pada Prog.One Profesional Profile bersama Sari Ismail.Christovita Wiloto & Co adalah perusahaan Pubilc Relations yang menangani Integrated Communications dan Investment Strategic.

Sekarang ini mereka pada sibuk-sibuknya menanggani klien-klien corporate yang bentuknya Retainer. Saai ini Klien dari PowerPR sudah banyak sekali, sebut saja Plaza Semanggi, Hudson Advisor Indonesia,Bank Permata dll yang jumlahnya sekitar 50an. Power PR itu sudah berdiri selama 4 tahun yang pendirinya adalah dia sendiri, Christovita Wiloto. Sebenarnya Chris lebih ke Strategic Planning.Jadi pada waktu kuliah Chris mengambil jurusan Strategic Management.
Kebetulan diUNPAD lagi ada kesempatan untuk mengambil jurusan tersebut, yang kabarnya sehabis itu sudah tidak ada lagi. Kebetulan Chris tertarik dengan bidang tersebut. Lulus tahun 1991 dan langsung bekerja diAmerican Express, yang kemudian mendapat tawaran pada Bank Niaga sebagai Strategic Planning.

Setelah itu Chris juga pernah bekerja pada Bank Tiara. Dan sempat sekolah diAIM yang akhirnya balik lagi keIndonesia bekerja pada BPPN.Motivasi untuk membangun PowerPR dari Chris adalah FREEDOM. Yang maksudnya Chris pinginnya bebas sebebas-bebasnya. Dalam arti Chris tidak buru-buru untuk bekerja.

Karena kalau diperusahaan yang lain, kita harus berangkat pagi-pagi dan pulangnya malam. Makanya Chris disini pingin mencari tantangan baru, dengan Freedom tersebut kita bisa menentukan Cuti atau Libur sendiri. Walaupun kalau dilihat Costnya sangat besar. Itu juga salah satu perbedaan antara bekerja diperusahaan sendiri dengan Perusahaan orang lain.Dimana-mana setiap kita membuat perusahaan selalu ada kendala yang dihadapi, yaitu Modal. Sebenarnya Menurut Chris sendiri, untuk membuat perusahaan yang bergerak dibidang PR tidak memerlukan Modal, yang perlu kita dunakan hanyalah sebatas HP, Fax dan Komputer.Chris ada 4 bersaudara, dan yang paling tua diantara keluarganya. Semuanya sudah lulus dan 1 adek lagi yang belum menikah. Hal yang paling dibenci oleh Chris adalah kebohongan. Tapi banyak juga yang Bohong untuk kebenaran. Jadi menurut Chris dia ada cukup untuk toleransi untuk bias mengerti dari kebohongan…

Thursday, April 29, 2004

Belajar dari Kesuksesan dan Kegagalan

Belajar dari Kesuksesan dan
Kamis, 29 April 2004 SWA
Oleh : Sudarmadi
http://www.swa.co.id/swamajalah/sajian/details.php?cid=1&id=311

Banyak faktor menentukan gagal atau suksesnya wirausahawan. Mereka harus siap tahan banting, punya semangat baja untuk terus melaju, dan mau belajar terus dari berbagai pengalaman.

"Saya bersyukur mundur dari BPPN dan berwirausaha sendiri. Kalau tidak, saya akan seperti teman-teman yang pusing mencari pekerjaan,? ujar Christovita Wiloto, mantan Kepala Humas BPPN yang sudah membangun perusahaan kehumasan sendiri. ?Setidaknya, sekarang saya punya pendapatan tiga kali lipat dibanding saat di BPPN," lanjutnya ingin menunjukkan bahwa ia telah mengambil pilihan tepat -- meski tak mudah -- sebagai wirausahawan.

Christov - panggilan akrabnya -- memang pantas tersenyum lebar. Wiloto Corporindo, perusahaan kehumasan yang dirintisnya sejak empat tahun lalu kini sudah membuahkan tanda-tanda kemajuan. Tidak kurang dari 25 proyek telah ia tangani dan sekitar 12 klien besar sedang digarap, seperti: Grup Agung Podomoro (Pakubuwono Residence), Bank Permata, Newmont, CIMB (Malaysia).

Dengan 15-an karyawan, Christov optimistis dengan pilihan bisnis yang dia geluti. Padahal, ketika memulai usahanya dulu, boleh dibilang hanya bermodal pengalaman dan kemampuan. Tabungan senilai Rp 30 juta habis digunakan untuk menyewa kantor di Plaza Sentral dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan lain. Tidak jarang di awal memulai usaha, ia sempat kesulitan uang membayar gaji karyawan, sehingga terpaksa meminta istri dan ibunya untuk membantu dengan menjual kalung emasnya.

Tak sedikit pengusaha muda yang jatuh-bangun merenda sukses seperti halnya Christov. Pengalaman George Utomo, Cathy Maria Goretti, Erik Suryaputra, Agung Wijaya, dan yang lainnya kurang-lebih sama. Mereka ini wirausahawan yang mencoba konsisten dengan pilihannya dan berusaha fokus di bidang yang menjadi keahliannya. Christov, umpamanya, karena ia memang memiliki kompetensi di bidang komunikasi, maka Wiloto Corporindo bergerak di bidang komunikasi. Ia tak sekadar sebagai public relations yang menjembatani kliennya dengan media, melainkan juga terlibat dalam manajemen strategi, melakukan bisnis intelijen, investor relations dan lobi-lobi.

Begitu pula Cathy Maria Goretti, pemilik Christopher Beauty Centre. Ia menggeluti bisnis salon -? kini memiliki 38 gerai Salon Christopher -- setelah selama 9 tahun bekerja di Jhonny Andrean. Posisi terakhir sebagai Kepala Sekolah Penata Rambut dan Manajer Quality Control sebelum tahun 1999 cabut untuk mendirikan usaha sendiri. Yang menarik pada Cathy ketika mulai serius membangun bisnisnya Februari 2000, ia menerapkan apa yang diyakininya, bahwa SDM itu penting dan lebih baik mengajarinya dari nol. Maka, ia sengaja merekrut tenaga dari nol yang tak punya keahlian menata rambut. "Lebih mudah mengajar yang belum berpengalaman. Mereka lebih serius belajar dan loyalitas lebih tinggi," kata Cathy yang membuka gerai pertama di ITC Mangga Dua, Jakarta, dengan dana sekitar Rp 200 juta.

Untuk menangani SDM-nya, Cathy menyediakan tempat pelatihan khusus untuk melatih para pemula. Ia pun tak segan-segan mengirim anak buah belajar ke luar negeri. Selama empat tahun ini Cathy melakukan departemenisasi untuk memudahkan manajemen. Ada lima divisi, yakni divisi SDM, kualitas dan pengembangan mutu, finansial dan akunting, purchasing, legal dan tax, serta promosi. Setelah Salon Christopher semakin besar, Cathy tak mau bermain terlalu sempit dengan hanya menyasar kalangan atas. Caranya, Salon Christopher hadir di tempat-tempat yang beragam. Ia tak hanya buka di pusat perbelanjaan kelas atas, seperti Plaza Semanggi atau Tunjungan Plaza, Surabaya, melainkan juga buka di mal-mal menengah-bawah. "Saya tak mau memilah segmen pasar," tutur hair dresser yang sempat mengecap pendidikan di Pivot Point, Las Vegas ini.

Seperti halnya Cathy, George Utomo,pemilik Video Ezzy, termasuk pengusaha muda yang gigih menggolkan usahanya. Menyadari bahwa bisnis yang dia geluti, yakni bisnis rental VCD, bukan hal yang baru, George mencoba terobosan baru yang belum permah terlihat di pasar. Selama ini rental VCD hanya dikelola kumpulan anak-anak muda yang minim profesionalisme dengan dukungan lokasi yang kurang nyaman. George kemudian hadir dengan deferensiasi: rental VCD dengan ruangan luas dan nyaman, bernuansa modern dan bersih, serta pilihan VCD lengkapVideo Ezzy yang didirikannya langsung mendapat respons pasar. George yang belum pernah bekerja buat orang lain terus memutar otak. Ia pun lantas mengembangkan Video Ezzy ke berbagai lokasi, terutama yang di sekitarnya banyak tinggal mahasiswa.

Melihat sukses yang dicapainya, keponakan Teddy P. Rachmat, bos Astra International ini langsung menggarap bidang baru, yakni bisnis online brokerage melalui Indofinanz.com dan bisnis pembiayaan buat kalangan UKM (mikrofinancing) yang sejak didirikan dua tahun lalu telah berhasil merangkul 60 ribu UKM. Menurut George, hanya Indofinanz yang kinerjanya kurang bagus. Didirikan pada Maret 2000 oleh George bersama tiga temannya, Indofinanz yang membidangi layanan online trading dan portal pasar modal yang menyajikan informasi transaksi saham di lantai bursa secara online dan real time hingga sekarang cenderung berjalan stagnan. ?

Tapi, yang penting kami harus bisa bertahan," ujar George. Kalau awalnya revenue ditargetkan mencapai Rp 150 juta/bulan, sekarang hanya mendapatkan Rp 30-40 juta/bulan. "Bagaimana lagi, sangat sulit membangun bisnis ini menjadi lebih besar," sambungnya jujur. Bagi George, Indofinanz bisa bertahan di saat sekarang saja sudah cukup.Dari pengalaman menggarap Indofinanz, ada pelajaran menarik buat George. Asumsi Internet booming di tahun 2000 ternyata tak seindah mimpi yang dibayangkan. Kesalahan George, ia ikut-ikutan menggarap bisnis ini, padahal penetrasi Internet di Indonesia amat jauh dibanding di negara-negara maju.

Untungnya, George masih memiliki dua sekoci lain, bisnis rental dan pembiayaan. "Saya terlalu tergesa-gesa memasuki industri ini dan kurang perhitungan," ujar George mengevaluasi dirinya.Sudah pasti kegagalan bisa dilihat sebagai bagian dari biaya pembelajaran. Cathy pun sebenarnya pernah gagal sebelum sukses mengibarkan Salon Cristopher. Ia pernah membuka salon pada 1980-an, berkat bujuk rayu seorang temannya. Ketika itu ia tanpa bekal keahlian karena belum punya pengalaman bekerja di salon. Untuk itu ia menempatkan seorang pengelola.

Namun, bisnisnya hanya 8 bulan berjalan, karena ternyata sang teman menipu.Dari sini Cathy mendapat pelajaran, menerjuni bisnis salon ternyata harus menguasai dan ahli. "Jangan cepat percaya dengan seseorang walaupun dia ahli," kata Cathy. Menurutnya, untuk terjun di suatu bidang tertentu, harus punya kompetensi sendiri, selain harus kerja keras, konsisten dan berkomitmen tinggi.Bagi kebanyakan wirausahawan muda, sering kali kegamangan muncul di saat memulai usaha. Ketika menghadapi realitas merintis bisnis sendiri teryata tak semudah yang diimpikan, pikiran lantas goyah. Tak sedikit yang kemudian tergoda atau setidaknya ingin kembali menekuni profesi karyawan. Apalagi, bila di tengah jalan ditawari pekerjaan dengan posisi dan kompensasi amat menggiurkan. Kegamangan seperti ini sering memicu terbentuknya wirausahawan tanggung yang berujung kegagalan.

Christov membenarkan situasi tersebut, karena pernah perasaan serupa berkecamuk dalam dirinya. Tahun pertama mendirikan perusahaan kehumasan, Christov mulai resah karena ternyata tak mudah mencari klien. Ia sempat berpikir lebih enak menjadi karyawan. Apalagi, ketika itu ditawari perusahaan besar untuk mengisi posisi amat strategis dengan kompensasi mengejutkan. Ia sempat berpikir mau pindah. Namun kemudian teringat bahwa ia telah memutuskan menjadi wirausahawan. Akhirnya, ia lupakan semua kemungkinan kembali sebagai karyawan itu. "Saya tersadar, harus membakar kapal masa lalu," tutur Christov analogis.

Kemudian, bila bisnis telah berjalan, soal kemampuan dan kedisiplinan manajerial juga menjadi perhatian penting. Kegagalan berbisnis kerap dipicu pola manajemen yang tak profesional alias salah urus. Wirausahawan pemula banyak yang lemah soal penegakan batas-batas kepentingan pribadi dan perusahaan. Uang perusahaan, misalnya, dipakai buat kepentingan pribadi atau keluarga. Praktik ini hampir selalu berulang dan terjadi pada para wirausahawan muda. Mereka cenderung tak tegas dalam menegakkan asas profesionalisme. Mencampur urusan pribadi dan perusahaan pada gilirannya akan mengganggu cash flow, atau setidaknya menghilangkan kesempatan tumbuh investasi baru. ?Menegakkan asas profesionalisme adalah prinsip bisnis paling mendasar," ujar Andrie Wongso, motivator, ahli entreprenuer yang juga pemilik PT Harvindo.

Agung Wijaya, pengusaha muda di bidang pelayaran mengaku menyesal karena lalai soal ini. Tahun 1999, bersama seorang mitranya dari Malaysia, ia mendirikan perusahaan agensi pelayaran, Bontang Lines. Tiga tahun bisnisnya terus tumbuh hingga ia punya 40 karyawan. Ia sendiri yang awalnya tak punya mobil, kemudian bisa memiliki tiga mobil pribadi yang bagus. Akan tetapi, bisnisnya kemudian kolaps dan mitranya undur diri. "Saya salah urus. Sebagian uang tak terasa saya ambil untuk urusan keluarga. Saya terlalu sering berlibur ke luar negeri," Agung mengakui, sembari menyebutkan campur tangan keluarganya yang terlalu besar dalam pengelolaan internal bisnis. Menurut Andrie, acap kali wirausahawan baru gagal sebab mereka tak sabar dalam mencanangkan pertumbuhan bisnis. Sebagian ingin langsung merasakan enaknya, termasuk omset miliaran rupiah. Akhirnya mereka tanpa banyak pertimbangan berutang ke bank untuk melipatkan modal. Yang berkecamuk di benaknya hanya bayangan indah-indah. Andrie melihat, banyak wirausahawan baru tak sabar pentingnya melakukan penahapan. "Semua usaha harus step by step. Yang terlalu memaksakan dengan pinjaman modal besar di awal biasanya malah jarang berhasil. Itu bukan entreprenuership," kata Andrie seraya menjelaskan bahwa penahapan dalam entreprenuership merupakan pembelajaran yang mahal dan tak bisa dipercepat.

Di sisi lain, kebanyakan usaha baru gagal karena mereka lupa mempersiapkan tahapan berikutnya. "Pokoknya mengerjakan yang di hadapannya saja.
Akibatnya sering terlalu reaktif terhadap kenyataan sesaat," tambah Tung Desem Waringin, konsultan kewirausahaan.Tung menengarai, cara berpikir seperti itu memicu kelalaian dalam mengontrol pertumbuhan skala usaha. Yang sering terjadi: ketika bisnis tumbuh dan pasar menguat, langsung melakukan investasi besar untuk rekrutmen SDM dan membangun pabrikasi. Padahal, belum diteliti dengan dingin dan seksama bagaimana peningkatan pasar itu terjadi, dan bagaimana struktur permintaannya di kemudian hari. Inilah antara lain jebakan yang kerap mengelabuhi para wirausahawan. Harus diingat, permintaan pasar yang besar di tahap awal bisa jadi hanya semu dan temporer. Dengan kata lain, kinerja bagus di tahun-tahun pertama jangan membuat berpuas diri.

Pelajaran menarik bagaimana mengontrol pertumbuhan dengan cara jeli ditunjukkan sejumlah pengusaha. Andi Bong, Direktur Pengelola PT Dwi Dua, yang membidangi logistik dan forwarding, umpamanya, berprinsip tidak asal memilih pelanggan. "Kami memprioritaskan pelanggan atau klien perusahaan garmen dan footwear. Karena umumnya mereka lebih stabil, sehingga tak repot dalam mengelola grafik naik-turun pekerjaan," tuturnya. Menurut Bong, relatif sulit berkembang bila klien-kliennya punya bisnis yang terlalu gampang naik-turun, meski kadang-kdang memberi pekerjaan yang besar. Hal ini terkait dengan kemampuan menyediakan SDM dan sumber daya pendukung usaha lainnya.

Kiat serupa juga diperlihatkan pengusaha biro iklan. Menurut Doni Prianto, Direktur Pengelola Avicom, perusahaan periklanan yang mampu bertahan dan tumbuh pada awalnya tak terlalu bernafsu menggaet proyek besar yang mercusuar. "Untuk pertumbuhan, mereka lebih suka mencari klien-klien yang memberi pekerjaan secara stabil sepanjang tahun, meskipun jumlahnya masih kecil. Hal itu menjadi basis atau fondasi buat operasional," ujar Doni yang bergabung dengan Avicom Advertising sejak tahun 2000.

Sering sukses-tidaknya sebuah usaha terkait dengan pemilihan mitra investasi. Rizal Khoir, bisa menjadi contoh wirausahawan muda yang bisnis rintisannya kini tak terlalu bagus gara-gara salah menggandeng mitra. Ceritanya, ketika menggeluti bisnis event organizer khusus melayani industri perminyakan, Rizal menggandeng investor baru untuk menambah kapitalisasi, sehingga posisi kepemilikan menjadi 40% buat Rizal dan 60% mitranya. Awalnya, kerja sama berjalan bagus sesuai konsep Rizal. Ia pun sempat memboyong timnya ke kantor yang lumayan megah di Jl. Jend. Sudirman, Jakarta. Namun apa lacur, tak lama kemudian perusahaan ini mulai kesulitan, sebab setelah mitranya mengambil alih manajemen, perusahaan kehilangan fokus: tak lagi fokus di perminyakan, tapi malah masuk di bisnis-bisnis yang tak relevan. "Kesalahan terbesar saya adalah terlalu tergesa-gesa memilih mitra untuk membesarkan usaha," ujarnya jujur.

Rizal menyebutkan, manajamen telah dipegang oleh orang yang tidak tepat. Ia menyesali terlalu cepat mengambil keputusan dan membiarkan bisnis event organizer yang dibangunnya selama tiga tahun diambil alih perusahaan besar yang sesungguhnya tak mengerti bisnis itu. Dari sini ia mendapat pelajaran untuk tidak terlalu berambisi mencapai sukses dalam waktu singkat. Erik Suryaputra, wirausahawan baru di bisnis resto, juga mengaku bisnisnya lamban sebab terlalu terburu-buru. Bukan dalam hal memilih mitra, melainkan menentukan lokasi dan jenis resto yang ia geluti.

Bersama 6 teman-temannya, Eric membangun Resto Klay dengan nilai investasi Rp 1,1 miliar, di kawasan Darmawangsa Square, sekitar 7 bulan lalu. Restonya punya positioning sebagai resto masakan Vietnam. Alasannya, semasa sekolah di Australia ia telanjur gandrung masakan negara bekas jajahan Amerika itu. Tak ada keahlian yang ia miliki di bisnis resto. Toh, ia punya bekal ilmu pemasaran semasa bersekolah di Negeri Kanguru. Namun apa daya, setelah 7 bulan bisnisnya masih berjalan lamban. Meski sejauh ini menurutnya lebih lumayan dibanding resto-resto di pusat bisnis anyar tersebut, Erik merasa amat lambat. "Jujur, bisnis ini jauh dari target yang diharapkan," katanya.

Bila mulanya ia menargetkan setahun modal kembali, nampaknya bakal sulit bila melihat kondisi saat ini. Klay rata-rata dikunjungi 30-40 orang/hari dari total kapasitas 70 kursi. Erik mengaku, kesalahannya dalam pemilihan lokasi. Ia tak melakukan survei terlebih dulu. Begitu punya konsep restonya langsung cari lokasi. Tak heran meski aktivitas promosi intens dilancarkan, tak mencapai hasil yang maksimal. Konsep resto menurutnya telah mengena. Target yang hendak dibidik pun tak meleset. Kendati demikian, tak membuat sarjana pemasaran lulusan Sydney, Australia ini menyerah. Gerai pertama boleh jadi tidak menguntungkan, tapi ia akan mencoba peruntungan di tempat lain dengan perhitungan yang lebih matang.

Selain hal-hal yang telah disebutkan di muka, salah satu faktor krusial yang menentukan nasib wirausahawan baru adalah faktor organisasi. Sayang sekali, selama ini paling banyak muncul sindrom great boss, mediocre staff. Terdapat kesenjangan kewenangan dan kemampuan yang begitu jauh antara pimpinan (si entreprenuer) dengan anak buah. Hal ini sering menyebabkan bisnis tak berkembang karena yang menciptakan bisnis hanya si bos, sementara para staf hanya berperan administratif. Dengan kata lain, untuk menjalankan usaha, mesin organisasi harus berfungsi. Maksudnya, setiap usaha baru tidak boleh bertumpu hanya pada satu atau dua orang SDM. Mesin organisasi harus berjalan, sehingga siapa pun dalam perjalanan usaha itu keluar, perusahaan masih bisa berjalan dengan normal. Bila mesin organisasi sudah berjalan bagus, bisa jadi keluarnya orang tadi tak banyak berpengaruh. Bila selama ini yang menonjol hanya peran-peran individu, bisa dipastikan bisnis baru itu akan makin suram.

Tung mengevalusasi, sukses-tidaknya wirausahawan baru ditentukan tiga hal. Pertama, semangat kewirausahaannya. Faktor ini biasanya berpengaruh besar ketika menghadapi berbagai hambatan dan kegagalan. Kedua, kompetensi teknis di bidang yang digarap. Kompetensi teknis ini sebenarnya bisa dimiliki sendiri tapi bisa juga dari orang lain yang punya komptensi teknis. Dan ketiga, kemampuan manajerialnya. Dalam pengamatan Tung, selama ini banyak entreprenuer terjebak dengan kemampuan teknis semata. Misalnya ia membuka konsultan hukum, yang ia andalkan hanya penguasaan masalah hukum. Demimikian pula pengusaha resto, hanya belajar resep. "Bisnis seperti itu peluangnya untuk bisa bertahan dan awet memang besar, karena sudah punya kompetensi dasar. Tapi harus dicatat belum tentu bisnisnya bisa membesar," tuturnya. Pasalnya, menurut Tung, untuk membesarkan bisnis yang lebih dituntut ialah kemampuan manajerial, terutama soal manajer pengembangan SDM, memasarkan, keuangan, cash flow, mengoordinasi tim, dan lainnya.

Tung juga melihat selama ini kelemahan terbesar ialah soal manajemen cash flow. Persoalan mendasar biasanya kesulitan mengelola cash flow. "Banyak yang bangga modalnya cukup besar dan pemasarannya mulai jalan, tapi tak bisa membaca dan mengelola cash flow. Akhirnya kolaps," ujar Tung, yang melihat tak mungkin semua wirausahawan baru bakal sukses. Ia merujuk data di negara maju, 80% usaha baru mati di tahun pertama, dan kemudian 80% dari 20% yang tersisa akan habis pada empat tahun berikutnya. Jadi, setelah lima tahun yang bertahan hanya 4%.

Sementara itu, pakar motivasi yang juga Direktur PT Foerever Young Indonesia Andrie Wongso melihat, gagalnya entreprenuer baru karena tiga aspek. Pertama, faktor internal pengusaha. Misalnya, kemampuannya tak cukup atau semangatnya yang lemah. Kedua, kekuatan pemain lain yang lebih bagus. Jadi, si pengusaha sebenarnya sudah bagus tapi pesaingnya lebih bagus produk dan strategi pemasarannya lebih mengena. Ketiga, kondisi makro, misalnya resesi dunia atau krisis moneter. Andrie berpandangan, sebagian besar kegagalan wirausahawan baru justru lebih disebabkan hal nonteknis atau hal yang terkait dengan sikap mental. "Persentasenya lebih dari 70%," kata Andrie, yang dikenal sebagai salah satu pembicara termahal ini. Menurutnya, bila entreprenuer punya sikap mental bagus, seandainya tahu tanda-tanda bisnisnya akan gagal atau turun, ia akan bisa mencari jalan keluar.

Menurut Andrie, salah satu mentalitas yang tak kondusif ialah hanya berpikir yang indah-indah, sehingga ketika terjadi benturan dalam bisnis ia kaget. "Padahal tak ada yang indah. Justru harus melihat perjuangan itu sebagai hal yang indah," ungkap Andrie, yang melihat banyak wirausahawan baru tak mau berjuang mati-matian. "Tidak ada disiplin yang keras, sehingga kerjanya hanya ala kadarnya," lanjutnya. Sekali-dua kali gagal, misalnya dalam menjalin pemasaran atau mencari investor, sudah putus asa. "Padahal, semua atlet internasional yang superstar pun pasti pernah kalah," ujarnya membandingkan.

Penyakit lainnya, mudah merasa cukup sehingga lalai memikirkan visi dan tahapan berikutnya. "Tak ada visi belajar dan berkembang terus untuk melahirkan ide-ide dan intuisi bisnis baru," kata Andrie. Ia mencontohkan beberapa kolega bisnisnya yang bergerak di distribusi mesin faks yang kolaps karena masuknya komputer dan Internet. "Mereka ini tidak pernah belajar dan tak mau tahu peluang-peluang industri substitusi, sehingga tahu-tahu bisnis kolaps," ujarnya. Menurut Andrie, menjadi wirausahawan sukses dewasa ini, memang harus mau terus belajar dan berubah secara berkesinambungan sesuai dengan prinsip Jepang, Kaizen.

Reportase: Siti Ruslina. Riset: Siti Sumaryati. (swa)

Friday, September 05, 2003

Pengantar Profil: Muda, Ulet dan Unggul Bersaing

Pengantar Profil: Muda, Ulet dan Unggul Bersaing
Jum'at, 5 September 2003 10:00 WIB - wartaekonomi.com

Adakah sejumlah kriteria yang kami tetapkan ketika memilih 25 pengusaha muda yang dinilai akan mampu bersaing di era global? Ukurannya, kuantitatif dan kualitatif.
Indikator kuantitatif ada beberapa. Pertama, mereka adalah pemilik usaha atau investor yang memiliki minimal 10% saham di perusahaannya. Kedua, usianya 35 tahun atau kurang pada 2003 ini. Ketiga, perusahaannya minimal sudah beroperasi selama dua tahun. Keempat, omzet minimal Rp3 miliar per tahun. Kelima, tingkat keuntungan usahanya minimal setara atau lebih besar dari rata-rata persentase yang diperoleh para pebisnis di bidang yang sama.

Secara kualitatif, pertama, melihat asal mula mereka memulai usaha. Apakah mereka mulanya memperoleh akses usaha, ada rencana, tujuan atau cita-citanya menjadi pengusaha, berani mengambil risiko, dan sebagainya. Kedua, melihat cara mereka mengelola usahanya. Di sini terlihat kemampuan manajerialnya, juga inovasi, lalu bagaimana meningkatkan pendapatan usaha, mengejar dan memperbesar laba, adakah etika dalam berbisnis, tingkat keterbukaan atau transparansinya, dan sebagainya. Ketiga, melihat cara mereka mempertahankan keunggulan usaha. Di sini terlihat basis usahanya, kemampuannya menciptakan nilai tambah, kompetensi inti, dan jenis produk yang dihasilkan. Keempat, melihat besarnya manfaat kehadiran mereka bagi lingkungannya, baik bagi masyarakat maupun negara. Misalnya, kemampuannya menyerap tenaga kerja, meraih devisa (ekspor maupun substitusi impor), dan sebagainya.

Berdasarkan pembobotan atas indikator tadi (dengan bobot lebih besar kepada indikator kualitatif), inilah 25 pengusaha muda di bawah 35 tahun yang diperkirakan mampu bersaing dalam era kesejagatan.

1. Johar Alam, 35 tahun, Chairman PT Internetindo Data Centra Indonesia
Mantan hacker ini memilih bisnis yang tak lazim: data center. Ini bisnis menyewakan rak-rak tempat server komputer, termasuk jasa pemeliharaan dan keamanannya. Ia memulai bisnisnya tahun 2000, dan kini memiliki 85 klien. Separonya adalah perusahaan penyedia jasa internet.

Biaya sewa rak Rp5 juta, sementara sewa ruang Rp2 juta per meter per bulan. Luas ruang yang dikelola Johar 300-an meter persegi. Dari bisnis ini, per bulan Johar mengantongi pendapatan Rp800 juta, yang separonya ia alokasikan untuk biaya operasional dan gaji karyawan. Jadi, per bulan Johar mengantongi Rp400--500 juta. Perusahaan Johar pernah hendak diakuisisi oleh perusahaan telekomunikasi dari Korea Selatan. Namun, Johar tak berminat melepaskannya.

2. Tonny J. Johan, 28 tahun, Presdir PT Plexis Erakarsa Pirantiniaga
Memilih jadi pengusaha ketimbang karyawan Citibank. Begitu lulus dari Institut Teknologi Nasional, putra pengusaha kelapa sawit ini mendirikan perusahaan pengembangan web dengan modal awal Rp300 juta. Kini bisnisnya meluas ke bidang lain, seperti jasa implementasi, customization, maintenance, dan training. Plasmedia, nama perusahaannya ini, bekerja sama dengan vendor-vendor besar untuk pengadaan perangkat keras dan sistem integrasi. Di Plasmedia, Tonny menguasai 35% saham dan pada 2002 perusahaannya membukukan omzet Rp6 miliar.

3. Alfred Boediman, 30 tahun, CEO Starbay Development Co. Ltd
Magister dari Universiteit Brussels, Belgia, ini sempat menjadi profesional di Oracle dan Siemens, Singapura. Di sana ia mengumpulkan modal, lalu keluar dan mendirikan usaha sendiri. Berbasis di Singapura, dalam tempo tiga tahun ia berhasil mendirikan lima perusahaan dengan bendera Starbay. Untuk mendirikan usaha, Alfred mengeluarkan dana US$1,3 juta, sebagian dari tabungannya plus tambahan dari dua temannya dan dari orang tua. Dari Starbay sebagai perusahaan inkubator, Alfred mendirikan PT Pratama Sukses Sejati (kepemilikan sahamnya 20%), I-Kom Communication (40%), serta memiliki saham di PR Sigma Solusi Integrasi (14%), PT mVcommerce Indonesia (2%), serta SNAP Media (40%). Starbay kini mencatat pendapatan Rp10 miliar per tahun.

4. Lasman Citra, 33 tahun, CEO Rajawali Tri Manunggal
Setelah gagal di bisnis peternakan ayam, ikan, dan penggilingan padi, Lasman memutuskan menjadi profesional. Ia bekerja di PT Metrodata Electronics. Setelah mendapat ilmu, pada 1999 ia tergiur untuk kembali berbisnis sendiri. Lasman lalu mendirikan PT Nusantara Data Solusi, sebuah perusahaan sistem integrator yang bermitra dengan Metrodata. Setahun berikutnya, perusahaannya itu melakukan merger dengan Rajawali Tri Manunggal (RTM). Lasman mendapat 30% saham di RTM dan bertindak selaku CEO.

Kini RTM memiliki tiga anak usaha, yakni RTM Global Integration, RTM Global Technologies, dan PT Cipas Indonesia. Tahun 2002, RTM membukukan pendapatan US$30 juta. Untuk 2003, perusahaan dengan 100 karyawan ini merambah ke bisnis penyedia jasa infrastruktur telekomunikasi dan jaringan.

5. Ian Rangkuti, 32 tahun, Presdir PT Natnit.net
Melalui PT Natnit.net yang didirikannya dengan modal Rp300 juta, Ian membangun bisnis perdagangan lewat internet yang disosialisasikan dengan tabloid Natnit.net. Perpaduan dua cara ini memberinya omzet Rp500--600 juta per bulan. Profit margin yang diraupnya lebih dari 0%.

6. Izak Jenie, 33 tahun, Direktur Jatis Solutions
Peraih penghargaan dari Ernst & Young Indonesia sebagai "Pengusaha Muda 2001" ini, bersama beberapa rekannya, berpatungan mengumpulkan uang Rp1 miliar untuk modal awal mendirikan Jatis Solutions. Lewat Jatis, Izak menggarap proyek internet banking BCA dan beberapa bank lain senilai Rp1 miliar. Pada tahun pertama, Jatis berhasil membukukan omzet Rp3 miliar. Mereka juga ekspansi ke Singapura, Taiwan, Malaysia, dan Filipina. Kini sebagian besar saham Jatis dimiliki perusahaan modal ventura 3i, dan Izak hanya menguasai 10%. Walau begitu, dia masih dipercaya mengelola Jatis.

7. Christovita Wiloto, 34 tahun, Presdir PT Wiloto Corporation
Perusahaan ini 100% sahamnya dimiliki Christovita. Dia menekuni bidang-bidang usaha: PowerPR untuk integrated communications & investment strategy services, PowerPR Institute untuk strategic communications institute, serta PowerLogo untuk brand & corporate identity. Omzetnya tahun lalu Rp6,2 miliar dengan profit 30%-an. Padahal, tiga tahun lalu, usaha ini ia dirikan hanya dengan modal Rp30 juta. Kini PowerPR hadir di Malaysia, Singapura, Hong Kong, dan Shanghai, dan sedang menjajaki pasar Afrika.

8. Iman Kurniadi, 34 tahun, Dirut Restoran Hot Planet
Resto miliknya ini akan hadir di beberapa kota besar, seperti Surabaya, Makassar, Medan, Bandung, dan Yogyakarta. Ekspansi ini dilakukan dengan cara waralaba. Di Jakarta, kini Iman memiliki tiga resto, yakni di Bintaro (dengan investasi Rp800 juta), Blok M (Rp1,8 miliar), dan di Sarinah (Rp5,6 miliar). Jika tahun lalu Iman mempekerjakan 70 karyawan, kini sudah 150 orang. Untuk 2002, Iman membukukan omzet Rp10 miliar, dengan profit margin 20%.

9. Andreas Thamrin, 26 tahun, Pemilik Games Market, Australia
Ketika kuliah di Australia empat tahun silam, Andreas menemukan peluang bisnis di bidang entertainment software, khususnya di pasar games. Usai menyusun business plan, dengan modal uang simpanan A$30.000, ia memulai bisnisnya di Australia. Ia juga mengandalkan penjualan via internet. Bisnis pria yang pada usia 16 tahun pernah bekerja di restoran McDonald's dan Pizza Hut ini mampu menggaet sekitar 150 anggota. Produk yang dijualnya adalah games untuk PC, Sony Playstation, Microsoft Xbox, Nintendo Game Cube, dan Apple Macintosh. Omzetnya terus meningkat, dari sekitar A$270.000 pada 2000-2001, A$600.000 (2001-2002), dan mencapai A$820.000 pada 2002-2003. Tahun ini ia menargetkan omzet A$1 juta, atau sekitar Rp5 miliar.

10. Erwien Nurwihatman, 33 tahun, Managing Director PT Capella Sumber Internet
Sejak tahun 2002 ia menjadi partner strategis Cisco Systems untuk menggarap pasar sistem jaringan. Selain itu, ia juga menggarap bisnis konsultasi dan layanan TI, mulai dari layanan internet hingga implementasi. Kini komposisi pendapatannya: 50% dari perangkat keras, 30% dari services, dan 20% dari lain-lain. Omzetnya pernah Rp5 miliar, tetapi pernah juga turun hingga Rp1 miliar. Sementara itu, profit margin untuk perangkat keras 15% dan services 40%. Erwien mengaku memiliki saham kurang dari 20% di perusahaan ini.

11. Fahira Fahmi Idris, 34 tahun, Dirut PT Nabila Parcel Bunga International
Fahira memulai bisnis parsel pada 1988, bersama sepuluh temannya yang masing-masing menyetor Rp500.000. Bisnis bersama ini kemudian dilanjutkan Fahira pada 1991, dan bahkan merambah ke florist juga. Semula Fahira mempekerjakan 10 karyawan, kini menjadi 300 orang--60 di antaranya karyawan tetap. Omzet Fahira per tahun ditaksir Rp5--7 miliar, dengan profit margin 5%--10%.

12. Joseph Edi Lumban Gaol, 33 tahun, CEO PT Antar Mitra Perkasa
Ia lulusan teknik informatika ITB. Perusahaannya, PT Antar Mitra Perkasa, fokus ke jasa TI, khususnya komunikasi data bergerak (mobile data). Misalnya, memberikan jasa nilai tambah bagi produk-produk telekomunikasi bergerak, seperti SMS. Ia pula yang menggarap layanan mobile banking BCA dan Excelcomindo Pratama. Tahun ini Joseph menargetkan pendapatan Rp6 miliar, meningkat sedikit dibanding tahun lalu, dengan net profit 30%.

13. Kanaya Tabitha, 31 tahun, Pemilik Rumah Mode Kanaya
Rumah mode Kanaya ia rintis sejak 1998. Produk fashion-nya langsung melejit dengan merek namanya sendiri. Selain mengandalkan pendapatan dari hasil rancangan, ia juga melayani pembuatan seragam berbagai instansi, termasuk militer. Selain itu, Kanaya juga melayani peminjaman gaun untuk fashion exhibition. Perancang yang pernah mengikuti Hong Kong Fashion Week ini mengaku, omzetnya di atas Rp4 miliar setahun dengan profit margin di atas 15%.

14. Iin Mintosih, 33 tahun, Direktur Utama Satu Kupu
Lulusan jurusan arsitektur Universitas Atma Jaya, Yogyakarta ini mendirikan PT Satu Kupu pada Maret 1999 dengan modal Rp2 juta, plus dua karyawan untuk membuat bantal, seprei, dan bed cover yang eksklusif. Kini omzet perusahaannya mencapai Rp3 miliar per tahun. Selain melayani pasar ritel lokal, produk Satu Kupu juga masuk ke mancanegara. Bisnisnya pun kian berkembang ke batik dan garmen. Bisnis ini amat menguntungkan karena profit margin-nya bisa mencapai 50%. Iin memiliki 100% saham di perusahaan ini.

15. Ridwan Prasetyarto, 32 tahun, CEO PT eBdesk Indonesia
Ridwan mendirikan eBdesk pada 1999, bersama tiga rekannya, dan baru memulai kegiatan komersialnya pada 2001. Mereka kini memiliki 70 customer, terbesar masih di Indonesia, sebagian AS, Arab Saudi, dan Malaysia. Di Indonesia, klien eBdesk, di antaranya, PT Astra International, Telkom, PT Rekayasa Industri, Satelindo, PT Rajawali Nusantara Indonesia, dan Pertamina. Di AS, kliennya adalah Interim Healthcare, provider outsourcing jasa kesehatan. Soal kinerja, lulusan ITB ini menyebut, tahun lalu mereka membukukan pendapatan Rp4,5 miliar, dengan tingkat keuntungan bersih 30%.

16. Rudi Mulyono, 31 tahun, Rally Auto Center
Ia memiliki bengkel seluas 3.000 meter persegi, terluas di Jawa Timur. Layanannya, ada body repair, AC mobil, salon mobil, cuci mobil, spooring and balancing, audio mobil, jok, modifikasi, dan sebagainya. Lengkap. Bisnisnya yang ia mulai dengan modal awal Rp550 juta, kini beromzet Rp12 miliar. Profit margin-nya 17,5%. Dengan persaingan bisnis bengkel yang kian ketat, Rudi akan terus fokus pada konsep one-stop service dan mempekerjakan orang-orang yang berpengalaman.

17. Eko Hendro Purnomo, 33 tahun, KASAD (Komandan Setingkat Direktur) PT Etitiktiga Komando
Eko Hendro Purnomo, kondang dipanggil Eko Patrio. Di saat krisis 1998, dari otaknya bisnis bermunculan. Diawali dengan membuka kafe tenda, Eko sukses mendirikan holding company, PT Etitiktiga Komando. Kini bisnis Eko tumbuh subur, mulai dari production house (PH), salon, kafe tenda, hingga percetakan. "Saya puas jadi pelawak, tapi boleh melakukan diversifikasi," kata Eko, jenaka. Di bisnis PH, Eko mendirikan Komando Productions yang beromzet Rp6 miliar per tahun. Eko untung besar karena margin bisnis PH 30%--40%. Untuk salon, Eko punya Labuzet Salon, yang bakal membuka cabang di Atrium Senen. Dengan modal Rp200 juta, kini omzet salonnya Rp60 juta per bulan. Eko juga mendirikan PT Catur Mitra Promosindo yang bergerak di bidang printing, advertising, dan publishing dengan omzet Rp250 juta per bulan.

18. Estelita Hidayat, 31 tahun, Strategic Planning Director PT Voxa Integra
Bersama sang kakak, Marisa Hidayat, dan dua sahabatnya, pada 1995 ia mendirikan Voxa Advertising di bawah bendera PT Voxa Integra. Dua tahun berjalan, perusahaan yang didirikan dengan modal Rp200 juta ini berantakan terkena krisis moneter.

Ia lalu mendirikan Innovoxa, sebuah divisi media inovatif yang kemudian berdiri sendiri dengan nama PT Voxainfini Kreasi. Keberadaan divisi inovasi ternyata berpengaruh baik buat bisnis advertising Estelita. Kini, dengan 50 karyawan di Voxa Integra dan 40 di Voxainfini Kreasi, Estelita berhasil mencatat omzet masing-masing di atas Rp11 miliar dan Rp10 miliar per tahun. Adapun profit margin-nya ditaksir melampaui 15%.

19. Adrianto Gani, 35 tahun, CEO PT Puspa Intimedia Internusa
Sekembalinya dari studi di AS pada 1996, ia bersua dengan mitra bisnisnya. Mereka lalu mendirikan PT Puspa Intimedia Internusa dengan modal ratusan juta rupiah. Di perusahaan ini, Adrianto memegang 25% saham. Perusahaan ini menyediakan jasa konsultansi serta pelatihan dan implementasi TI untuk berbagai perusahaan. Kini perusahaan ini mampu mencatat omzet Rp4 miliar per tahun. Adrianto juga terpilih sebagai satu-satunya regional director Microsoft Developer Network di Indonesia.

20. Saleh Abdul Malik, 32 tahun, Presdir PT Altelindo Karya Mandiri
Meski sempat jatuh bangun, ia bersikukuh bahwa wirausaha adalah pilihan yang tepat baginya. Dengan modal Rp2 juta, Saleh mendirikan perusahaan yang menggarap pembangunan infrastruktur kabel di gedung-gedung. Dari sini, ia mengembangkan bisnisnya ke perjalanan ibadah haji dan umrah, perdagangan hasil alam, dan mendirikan PT E-Bizz Mitra Mandiri khusus untuk bisnis TI. Semua bisnisnya memberikan omzet Rp100-an miliar per tahun, dengan tingkat keuntungan 10%--15%. Akhir tahun ini Saleh akan melebarkan sayap bisnisnya ke Singapura. Ia juga akan masuk ke pasar daerah dan Australia. Sementara itu, bisnisnya yang di Timur Tengah tetap berjalan.

21. Tonton Taufik Rahman, 30 tahun, Pemilik CV Putra Mas Corporation
Tonton menggarap bisnis rotan. Untuk menembus pasar dunia, ia rajin mengiklankan bisnisnya lewat sebuah website di internet. Responsnya menggembirakan. Banyak pembeli dari mancanegara menghubunginya. Alhasil, bisnis Tonton maju pesat. Perusahaan yang ia dirikan pada 1999 dengan modal awal Rp1 juta, pada 2002 mencatat omzet US$320.000. Untuk tahun ini, ia menargetkan omzet US$500.000. Profit margin bisnisnya 15%.

Tahun 2001 Tonton mendirikan PT Exportindo Internusa, sebuah perusahaan jasa perdagangan lewat internet. Ada 8.000-an perusahaan yang menjadi member website www.eksport-import-indonesia.com. Awal 2002, ia mendirikan PT Budi Surya untuk bisnis transportasi minyak, dengan omzet Rp7 miliar per tahun dan tingkat keuntungan 7%.

22. Dendy Sjahada, 30 tahun, Direktur PT Duta Pelangi
Master of engineering lulusan Stamford University ini awalnya seorang profesional. Dia sempat bekerja di Merrill Lynch Hong Kong dan AS, serta di Club City, sebuah perusahaan TI di AS. Lepas dari karier profesional, ia mendirikan perusahaan inkubator bisnis di Singapura, bersama tiga rekannya, dan satu perusahaan konsultasi TI. Terakhir, bersama empat temannya, ia mendirikan Crystal Bar (PT Duta Pelangi) dengan modal awal Rp2 miliar. Mengandalkan perpaduan cita rasa lokal dan Amerika, Dendy kini memiliki lima cabang di Jakarta dan Palembang. Omzetnya di atas Rp3,5 miliar per tahun dan keuntungan bersih 15%-an. Lewat sistem waralaba, Crystal Bar berancang-ancang go-regional.

23. Hendy Widjaja, 33 tahun, Managing Consultant PT Insight Consultant
Pegawai PricewaterhouseCoopers (PwC) ini memutuskan berhenti sebagai profesional pada tahun 2000. Bersama seorang seniornya di PwC, pada Oktober 2002, ia mendirikan perusahaan konsultan manajemen, TI, dan perdagangan produk TI. Di perusahaan ini, Hendy memiliki 15% saham. Keputusan penyandang gelar Master of Science dari Louisiana State University, AS, ini terbukti jitu. Hingga kini, perusahaannya mampu membukukan pendapatan kotor US$1 juta, dengan profit margin 30% per tahun. Sebagian besar pendapatan diperoleh dari jasa perdagangan. Tahun ini, mereka berencana melakukan ekspansi ke negara-negara di Asia Pasifik.

24. Fathya Fereuzia Harmidy, 29 tahun, Direktur Operasional PT Visi Trilogy dan Direktur Keuangan PT Abirama Kresna
Lewat PT Visi Trilogy, master of engineering dari Georgia Institute of Technology ini membidik bisnis jasa pelatihan, lokakarya, seminar, dan sebagainya, dengan titik berat pada pengembangan bakat dan kreativitas terpendam. Perusahaan ini ia dirikan bersama dua rekannya pada tahun 2000. Kini Visi Trilogy mencetak omzet miliaran rupiah.

Selain itu, bersama ayah dan saudaranya, Fathya mendirikan PT Abirama Kresna, sebuah pabrik kayu lapis di Jawa Tengah. Di sana, mereka terlibat langsung di dalam operasional sehari-hari. Keuntungan bersih dari bisnis yang beromzet miliaran rupiah ini mencapai 15%.
25. Djoni Gunadi, 31 tahun,CEO PT Felice JewelleryMenjadi karyawan ternyata membosankan bagi Djoni. Sarjana teknik ini memutuskan keluar dari perusahaan patungan di bidang pertambangan, dan mulai belajar manajemen dan pemasaran secara otodidak. Pada 1999, bersama dua rekannya, ia berpatungan mendirikan Felice Jewellery. Modal awalnya, Rp1,5 miliar, langsung ludes untuk gerai pertama di Mal Pondok Indah. Namun, penjualannya pun menembus Rp1 miliar. Mereka lalu menambah gerai di Plaza Senayan dan Plaza Kelapa Gading. Kini omzet Felice rata-rata Rp10 miliar per bulan, dengan profit margin 15%--20%. Selain menjadi CEO, Djoni juga memiliki 10% saham di Felice.

FADJAR ADRIANTO

Tuesday, January 18, 2000

Cacuk Usulkan Perubahan Direksi Astra

Cacuk Usulkan Perubahan Direksi Astra
KOMPAS - Selasa, 18 Jan 2000 Halaman: 2 Penulis: MON Ukuran: 5676
CACUK USULKAN
PERUBAHAN DIREKSI ASTRA

Jakarta, Kompas
Sehari setelah dilantik sebagai Kepala Badan Penyehatan Perbankan
Nasional (BPPN), Cacuk Sudarijanto, menyurati Direksi PT Astra
International Tbk. Isinya antara lain mengusulkan perubahan susunan
anggota direksi perseroan, perubahan susunan anggota komisaris
perseroan.

Demikian informasi dari sumber terpercaya yang memberikan
fotokopi surat Cacuk itu, di Jakarta, Senin (17/1). Surat Cacuk
tersebut diberi nomor PB-44/BPPN/0100, tertanggal 14 Januari 2000,
sehari setelah Cacuk dilantik oleh Menkeu Bambang Sudibyo.

Perihal surat itu, telah dimintai penjelasan kepada sekretaris
Cacuk, Heni. Namun ia mempersilakan untuk menanyakan hal itu kepada
Agency Secretary BPPN, Christovita R Wiloto. Christovita yang biasanya
berperan memberikan jawaban atas permintaan konfirmasi mengenai
pemberitaan BPPN menganjurkan agar bersabar dulu, karena harus mencek
soal surat Cacuk itu.

Setelah dihubungi kemudian, Christovita mendapatkan informasi
bahwa hal itu akan dijawab lewat perusahaan public relation (PR),
Indo Pacific, yang kini disewa BPPN untuk menangani external
relations di BPPN.

Indo Pacific kemudian mengirimkan siaran pers BPPN yang
ditandatangani konsultan PR, Laksmita Noviera. Dalam keterangan
itu tertera kalimat, sebagaimana juga tertulis pada surat Cacuk
Sudarijanto.

Dalam surat Cacuk itu, dikatakan bahwa BPPN selaku kuasa PT
Holdiko Perkasa (nama perusahaan induk yang membawahi PT Astra
International yang kini dalam penanganan BPPN), dengan kepemilikan
saham sebesar 487.000.560 lembar saham Astra International, mengajukan
usul tambahan untuk dimasukkan dalam acara rapat umum pemegang saham
luar biasa (RUPSLB), yaitu menyangkut "perubahan susunan anggota
direksi perseroan".

Dalam poin ketiga usulan Cacuk itu, dituliskan, peninjauan kembali
persetujuan RUPSLB tertanggal 25 Maret 1999, mengenai pengeluaran
saham yang masih dalam portepel dan/atau penerbitan efek bersifat
ekuitas, dalam rangka restrukturisasi utang perseroan tanpa memberikan
hak memesan efek terlebih dahulu. Pada poin keempat dari usulannya,
Cacuk menambahkan, perlu adanya penjelasan umum sehubungan dengan
program divestasi perseroan.

Sementara pada keterangan pers yang dikirimkan Indo Pacific itu,
diuraikan bahwa tujuan pokok dari usulan BPPN mengenai Astra
International itu, adalah untuk melindungi kepentingan para pemegang
saham, meningkatkan nilai bagi semua pemegang saham, meningkatkan
transparansi perusahaan dan memperlancar penjualan saham Astra.
Keterangan itu, kurang lebih senada dengan informasi yang
disampaikan sumber di atas, yang mengatakan bahwa usulan yang
disampaikan Cacuk itu, dimaksudkan untuk memperlancar masuknya
Newbridge Capital ke Astra International, lewat pembelian saham yang
dimiliki BPPN atas Astra International, sebanyak 40 persen dari total.

"Gilbert Global Equity Capital Asia, Ltd, yang juga punya afiliasi
dengan investor Newbridge Asia II, telah menulis surat ke BPPN yang
mengajukan usulan pergantian direksi Astra, untuk memuluskan pembelian
saham Astra oleh Newbridge," kata sumber itu.

Keterangan dari Indo Pacific itu menambahkan, penjualan saham
Astra merupakan langkah penting bagi BPPN untuk memperoleh dana tunai
untuk biaya rekapitalisasi sektor perbankan, serta meningkatkan
kepercayaan investor terhadap Indonesia dan mempercepat pemulihan
ekonomi Indonesia.

Masih dalam keterangan itu, diutarakan, BPPN telah menunjuk
Newbridge/Gilbert Group sebagai benchmark bidder (penawar pembelian
yang menentukan), untuk saham tersebut, dan akan melakukan penawaran
saham terbuka bagi semua pihak yang berminat terhadap saham Astra,
dengan ketentuan yang sama demi menjamin prinsip keadilan dan
keterbukaan. BPPN akan memastikan bahwa semua peraturan perundangan
dan ketentuan pasar modal, ditaati dalam pelaksanaan tersebut.

Keterangan dari BPPN itu, kata sumber tersebut, tidak sesuai
dengan kenyataan yang terjadi. "Buktinya Badan Pengawas Pasar Modal
menolak usulan pergantian direksi karena dinilai tak sesuai aturan
di pasar modal," katanya.

"Juga mengapa tiba-tiba saja muncul nama Newbridge. Kita tidak
pernah tahu siapa saja pesaing Newbridge dalam pembelian saham Astra.
Lagi pula, kalau memang terbuka, mengapa Newbridge disebut sebagai
preferred bidder (penawar yang diunggulkan). Berarti ada unsur
keberpihakan BPPN pada Newbridge. Lagi pula, kok ada penentuan harga
senilai Rp 3.500 per lembar saham pada peminat pembeli saham Astra.
Apakah itu bisa dikatakan persaingan yang adil, apakah itu sesuai
dengan mekanisme pasar," katanya.

Newbridge Capital
Sementara itu Vice President PT Astra International, Aminuddin,
mengatakan, belum mengetahui soal isi surat Cacuk itu. "Saya belum
mendengar itu," katanya. Namun Aminuddin mengatakan, Astra akan
selalu mendukung tindakan BPPN.

"Hanya saja sebagai perusahaan publik, semua tindakan yang akan
dilakukan BPPN terhadap Astra International, agar dilakukan secara
transparan. Soalnya kita juga harus menjelaskannya pada pemegang
saham publik (di samping BPPN), soal apa pun yang akan dilakukan
BPPN terhadap Astra," kata Aminuddin.

"Kita tidak menolak apa pun sebenarnya, termasuk soal rencana
pembelian saham Astra oleh investor asing, demikian pula soal usulan
penggantian direksi Astra. Akan tetapi, semuanya kembali pada asas
keterbukaan yang memang harus melandasi setiap aksi yang menyangkut
perusahaan publik," katanya. (*/mon)

Wednesday, January 12, 2000

Kepala BPPN Diganti

Kepala BPPN Diganti
KOMPAS - Rabu, 12 Jan 2000 Halaman: 1 Penulis: MON/GUN/FEY Ukuran: 3333
KEPALA BPPN DIGANTI

Jakarta, Kompas
Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) telah mengganti Glenn MS
Yusuf dari jabatan Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN)
dan menunjuk Cacuk Sudarijanto sebagai penggantinya. Alasan
penggantian tidak dijelaskan. Demikian informasi yang beredar dan
sudah dikonfirmasikan oleh Menko Ekuin Kwik Kian Gie yang dihubungi
Selasa (11/1), di Jakarta.

"Keppres penggantian Glenn yang digantikan Cacuk itu, sudah
ditandatangani. Sebelumnya saya juga telah diberi tahu soal rencana
penggantian Glenn itu oleh Presiden Gus Dur. Jadi sudah pasti," kata
Kwik Kian Gie.

Sejauh ini Glenn tidak dapat dihubungi untuk dikonfirmasi
mengenai penggantian tersebut. Namun menurut Humas BPPN, Franklin
Richard, sampai sore kemarin semua pekerjaan di BPPN masih berjalan
normal. "Glenn masih meminta laporan hasil yang dicapai loan work out
(divisi yang menangani restrukturisasi). Dan itu adalah hal rutin,
tidak ada yang aneh," ujarnya.

Glenn MS Yusuf menjabat Kepala BPPN sejak 22 Juni 1998.
Sebelumnya Glenn adalah sebagai Direktur Bank Niaga. Sementara Cacuk
Sudarijanto sejak 1 Desember 1999 menjabat Wakil Kepala BPPN. Cacuk
dikenal pula sebagai Ketua Organisasi Massa Persatuan Daulat Rakyat.
Oktober 1999 lalu juga sempat beredar gosip penggantian Glenn
dari jabatan Kepala BPPN. Ketika itu, kepada Kompas Glenn menuturkan,
baginya sama sekali tidak ada masalah dengan penggantian itu. "Saya
akan kembali mengurus PT Danareksa Sekuritas," katanya.

Beri perlindungan
Agency Secretary BPPN, Cristovita R Wiloto mengatakan,
pemerintah kemarin sudah mengindikasikan akan memberikan perlindungan
pada pejabat BPPN dari kemungkinan gugatan balik dari pihak mana pun.
Tujuannya, agar pejabat BPPN tidak ragu-ragu menjalankan tugasnya
merestrukturisasi kredit-kredit yang di bawah naungan BPPN.

"Perlindungan itu untuk menghindari kemungkinan kerugian dari
gugatan balik dari berbagai pihak, namun dengan persyaratan semua
tindakan di BPPN telah sesuai dengan aturan main dan petunjuk kerja
yang melandasi cara kerja di BPPN," kata Christovita.

Ahli hukum perbankan Pradjoto mengatakan, rencana pemerintah
untuk memberi perlindungan dalam bentuk indemnity (ganti kerugian)
kepada BPPN dari kemungkinan adanya konsekuensi hukum dari setiap
tindakan yang diambil pejabat BPPN, tidak perlu diformalkan.

Indemnity, katanya, berbeda dengan kekebalan hukum (impunity).
"Saya setuju dengan adanya indemnity, tetapi tidak setuju kalau
pejabat BPPN diberi kekebalan hukum, karena menyalahi prinsip hukum
di mana semua orang sama di depan hukum, termasuk presiden," katanya.

Pradjoto menjelaskan, dengan adanya perlindungan dalam bentuk
indemnity, pejabat administrasi negara termasuk pejabat BPPN tidak
akan terkena tuntutan ganti rugi dari setiap tindakan atau kebijakan
yang dilakukannya.

Jadi walaupun suatu peraturan telah diperbaiki atau diganti,
jelas Pradjoto, maka kebijakan yang diambil pejabat adiministrasi
tersebut tidak bisa dipersalahkan.

"Akan tetapi pemberian indemnity tidak termasuk perlindungan
aspek pidana. Artinya, kalau pejabat administrasi negara itu
melakukan tindak pidana, tetap diproses hukum seperti biasa,"
katanya. (mon/gun/fey)

Thursday, December 30, 1999

Bapepam: Right Issue BB Belum Pasti

Bapepam: Right Issue BB Belum Pasti
KOMPAS - Kamis, 30 Dec 1999 Halaman: 3 Penulis: HAR/FEY/TAT Ukuran: 4164
BAPEPAM: "RIGHT ISSUE" BB BELUM PASTI

Jakarta, Kompas
Sampai saat ini, rencana penawaran saham terbatas (right issue)
Bank Bali (BB) masih belum diketahui secara pasti. Sebab, Badan
Pengawas Pasar Modal (Bapepam) sendiri sampai sekarang juga mengaku
masih belum mengetahui kejelasan sikap Tim Pengelola BB.

"Apabila mereka (BB) tidak memenuhi apa yang ditentukan oleh UU
Pasar Modal, Bapepam tidak akan mengeluarkan surat efektif untuk right
issue Bank Bali," ujar Kepala Bapepam Jusuf Anwar usai memberikan
keterangan pers akhir tahun Pasar Modal Indonesia, di Jakarta, Rabu
(29/12).

Sebelumnya, Kepala Biro Pengawas Keuangan Perusahaan I Bapepam,
Freddy Saragih menandaskan, sampai Kamis pihaknya belum dapat menerima
pendaftaran emisi efek dalam rangka right issue BB yang diajukan pihak
manajemen BB. Pendaftaran emisi itu dilakukan ketika saham BB masih
disuspend perdagangannya.

Bapepam sendiri menetapkan, suatu perusahaan yang akan
melaksanakan right issue, minimal 28 hari sebelumnya sudah harus
mendaftarkan ke Bapepam. Dalam kasus BB, batas akhir pendaftarannya
nanti adalah 31 Desember 1999. Jika tidak memenuhi itu, pelaksanaan
right issue BB harus ditunda sampai tahun depan.

Rapat
Untuk mengetahui kejelasan sikap BB, Jusuf Anwar mengaku telah
menugaskan Freddy Saragih, untuk mengikuti rapat Rabu sore dengan BB
untuk membahas kemungkinan right issue BB. Jusuf berharap rapat itu
dapat memberikan keputusan final menyangkut rencana right issue BB.
"Saya berharap begitu. Tetapi, jika tidak ya sudah." katanya. Ditanya
apakah rencana right issue bisa ditunda? "Bisa saja, jika syaratnya
tidak dipenuhi. Sebab, Bapepam 'kan harus melindungi publik investor,"
lanjutnya.

Kalaupun rapat sore ini tidak memberikan hasil, Jusuf menyerahkan
semuanya kepada BB sendiri. "Terserah mereka. Mau batal atau apa,
terserah. Yang jelas tidak akan efektif. Harusnya mereka serius.
Sebab, jika tidak serius kapan restrukturisasi BB akan selesai,"
lanjutnya.

Melihat belum adanya kejelasan sikap BB, Jusuf memperkirakan right
issue itu baru bisa dilaksanakan pada pertengahan Januari tahun depan.
Bukan pada awal Januari, sebagaimana diinginkan BB. "Itu pun kalau
semua ketentuan Pasar Modal sudah dipenuhi BB. Kalau tidak kami tidak
akan mengeluarkan surat efektif," katanya.

Sebelumnya, saham BB sudah diperdagangkan kembali mulai Jumat lalu
setelah perdagangan sahamnya dibekukan sementara (suspend) oleh PT
Bursa Efek Jakarta (BEJ) dan PT Bursa Efek Surabaya (BES), Agustus
lalu. Keputusan itu diambil setelah manajemen BB (tim yang ditunjuk
Badan Penyehatan Perbankan Nasional/BPPN) menyampaikan surat yang
memuat tentang keterbukaan informasi material.

Pencabutan pembekuan ini merupakan tahapan untuk menuju right
issue, yang memberikan kesempatan pertama membeli kepada para pemegang
saham lama BB (termasuk keluarga Rudy Ramli).

Yakin tak mundur
Secara terpisah, Agency Secretary BPPN Christovita Wiloto
menjelaskan, tim pengelola BB yang ditunjuk BPPN memerlukan waktu
untuk mengumpulkan data, guna menjawab pertanyaan Bapepam seputar
pemilik Deutsche Boerse Clearing AG (DBC).

"Untuk menjawab pertanyaan Bapepam seputar DBC itu diperlukan
waktu, karena tim pengelola Bank Bali yang se-karang 'kan berbeda
dengan tim pengelola Bank Bali yang tempo hari. Jadi, tim pengelola
Bank Bali yang sekarang harus kembali mengumpulkan data dan
informasi," kata Christovita.

Christovita menuturkan, BPPN dapat memaklumi Bapepam masih
menanyakan beberapa informasi kepada tim pengelola BB.
Kepala BPPN Glenn MS Yusuf sendiri sebelumnya mengungkapkan,
seandainya right issue BB diundur, hasil due diligence (pemeriksaan
menyeluruh dan mendalam dari berbagai aspek) yang didasarkan pada
laporan keuangan BB bulan Juni 1999 tidak dapat dipakai lagi, karena
batas waktu penggunaan laporan keuangan adalah enam bulan. Sehubungan
dengan itu, jika right issue BB diundur, kembali akan dilakukan due
diligence berdasarkan laporan keuangan September 1999.
(har/fey/tat)